WhatsApp Image 2026-10-26 at 23.12.47

Harga Emas Anjlok ke US$3.875, XAU/USD Dibayangi Koreksi Lanjutan

Muh. Rifai
Cerative Ai
A-AA+A++

Harga emas dunia menutup perdagangan Jumat, 30 Oktober 2026, di sekitar US$3.875 per troy ounce. XAU/USD kehilangan sekitar 3,6% dalam sehari setelah bergerak dari kisaran US$4.024 hingga menyentuh level terendah US$3.870.

Penurunan tajam tersebut memperlihatkan kuatnya tekanan jual di pasar emas menjelang pembukaan perdagangan pekan depan. Harga kini berada di bawah level psikologis US$4.000, sementara prospek kebijakan moneter Amerika Serikat masih menjadi salah satu faktor yang membatasi pemulihan.




Tekanan terhadap logam mulia datang dari meningkatnya kekhawatiran inflasi AS, ekspektasi suku bunga tinggi, serta aksi jual yang meluas di pasar keuangan.

Inflasi dan Prospek Suku Bunga Membebani Emas

Salah satu faktor yang membayangi pergerakan emas adalah perkembangan inflasi Amerika Serikat. Kenaikan harga energi dan data inflasi yang masih kuat memperbesar kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Sebelumnya, The Fed mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75%–4,00%. Namun, keputusan tersebut belum mampu memberikan sentimen positif bagi emas karena pelaku pasar masih memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika prospek suku bunga tinggi menguat, aset berbasis dolar cenderung lebih menarik bagi investor sehingga permintaan terhadap logam mulia berpotensi melemah.

Kenaikan harga minyak juga menambah kekhawatiran. Jika harga energi terus meningkat, tekanan inflasi berpotensi bertahan lebih lama dan mempersempit ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya.

Aksi Jual di Pasar Memperdalam Koreksi

Tekanan terhadap emas pada Jumat juga berlangsung bersamaan dengan pelemahan pasar saham Amerika Serikat, khususnya sektor teknologi.

Kekhawatiran terhadap besarnya investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta prospek pengembaliannya memicu aksi pelepasan aset berisiko.

Dalam kondisi pasar yang bergejolak, emas tidak selalu menjadi tujuan utama investor. Ketika kerugian pada aset lain meningkat, sebagian pelaku pasar dapat melepas kepemilikan emas untuk memenuhi kebutuhan likuiditas atau menutup posisi yang mengalami tekanan.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa status emas sebagai aset lindung nilai tidak menjamin harganya selalu menguat ketika pasar mengalami gejolak. Dalam kondisi tekanan likuiditas, logam mulia justru dapat ikut terkena aksi jual.

Berita Lainnya

Emas Turun Usai The Fed Tahan Suku Bunga, XAU/USD Dibayangi Data PCE
Dolar Menguat dan Yield Tembus 5%, Harga Emas Terancam Tembus Support
Emas Tertekan Jelang FOMC, Serangan Houthi Picu Ketidakpastian Pasar
Dolar Menguat Jelang FOMC, Mampukah Harga Emas Bertahan?
Dolar Menguat, Harga Emas Hadapi Risiko Penurunan Menuju US$3.800
Prediksi XAU/USD Jelang FOMC 29 Oktober 2026, Waspadai Pergerakan Dua Arah