Harga emas dunia melemah setelah Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuannya. Pada Kamis, 29 Oktober 2026, perhatian pelaku pasar beralih ke data inflasi PCE dan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi menentukan arah pergerakan XAU/USD selanjutnya.
Berdasarkan data Reuters yang tercantum dalam pembaruan pukul 12.10 WITA, harga emas spot turun 0,7% menjadi US$4.037,98 per troy ounce. Sementara itu, emas berjangka AS untuk pengiriman Desember tercatat di US$4.049,80 per ounce.
Pelemahan ini terjadi setelah The Fed mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75%–4,00%. Keputusan tersebut sesuai ekspektasi pasar, tetapi perbedaan pandangan di antara para pejabat bank sentral dan ketidakpastian arah kebijakan berikutnya masih membayangi perdagangan emas.
Keputusan FOMC diambil melalui pemungutan suara 10–2. Dua pejabat berbeda pendapat karena menginginkan kenaikan suku bunga, sebuah sinyal yang menunjukkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi masih menjadi bagian dari pertimbangan kebijakan moneter AS.
Ekspektasi Suku Bunga Masih Menekan Emas
Peluang kenaikan suku bunga pada Desember tetap menjadi perhatian investor. Berdasarkan data FedWatch yang disebut dalam bahan pembaruan, probabilitas kenaikan suku bunga turun menjadi 78% dari 84% sebelum keputusan The Fed.
Meski ekspektasi tersebut menurun, risiko pengetatan moneter belum sepenuhnya hilang. Pasar masih menilai pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan pada pertemuan berikutnya.
Pergerakan dolar AS dan obligasi pemerintah juga memperlihatkan sinyal yang beragam. Laporan Reuters setelah keputusan The Fed menyebut indeks dolar dan yield Treasury dua tahun melemah, sedangkan imbal hasil obligasi tenor panjang bergerak naik.
Wall Street Journal mencatat yield Treasury 10 tahun mencapai 5,044% pada penutupan. Angka tersebut merujuk pada penutupan yang dilaporkan, bukan kuotasi langsung saat artikel ini disusun.
Yield obligasi yang tinggi dapat meningkatkan biaya peluang memegang emas karena logam mulia tidak memberikan bunga. Namun, pelemahan dolar berpotensi memberikan dukungan bagi emas. Kombinasi kedua faktor tersebut membuat arah perdagangan berikutnya belum sepenuhnya jelas.
Di luar kebijakan moneter, harga minyak yang tinggi di tengah ketidakpastian pasokan Timur Tengah masih menjadi faktor risiko inflasi. Reuters juga melaporkan upaya Amerika Serikat membuka kembali negosiasi damai dengan Iran.




