Transaksi Judi Online di RI Capai 600 Triliun

Judi atau perjudian telah ada selama berabad-abad, orang-orang menggunakan uang hasil jerih payah mereka dengan harapan mendapatkan kemenangan besar dengan berjudi. Di era sekarang, kebangkitan teknologi dan internet telah melahirkan bentuk perjudian baru yang lebih berbahaya yakni, judi online. Meskipun terlihat nyaman dan tidak berbahaya, terjadinya judi online dapat menimbulkan konsekuensi yang merugikan, baik secara individu maupun sosial.

Salah satu kasus yang mengejutkan adalah seorang petugas polisi yang dibakar oleh istrinya di Mojokerto karena terlibat dalam perjudian online dan menggunakan uang keluarga untuk itu. Dalam kasus lain, seorang pejabat militer diperiksa karena menyalahgunakan dana unitnya sebesar 800 juta rupiah untuk perjudian. Insiden-insiden ini menggambarkan betapa buruknya perjudian online, tidak hanya terhadap individu tetapi juga terhadap integritas lembaga penegak hukum.

Selanjutnya, seorang pegawai bank di Maluku dikabarkan menggelapkan uang simpanan titipan Bank Indonesia sebesar Rp 1,5 miliar, semuanya demi perjudian online.

Baru-baru ini stasiun radio “Polemik Trijaya” mengangkat tema “MATI MELARAT KARENA JUDI” dalam live streamingnya mengenai isu judi online di Indonesia. Acara yang tayang pada Sabtu, 15 Juni 2024 ini mengundang berbagai pakar untuk berbagi wawasan mengenai topik tersebut. Narasumbernya antara lain anggota DPR RI, Sukamta, perwakilan Kementerian Komunikasi dan Informatika, Usman Kansong, Koordinator Kelompok Humas Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Natsir Kongah, dan psikolog keluarga, Mohammad Iqbal, Ph.D.

Diskusi ini menyoroti peningkatan aktivitas perjudian online yang berdampak buruk di Indonesia dan berdampak buruk terhadap individu dan masyarakat secara keseluruhan. Menurut salah satu pembicara, Natsir Kongah dari PPATK, pada tahun 2023 saja dilaporkan ada transaksi judi online sebesar 397 triliun rupiah.

“Nilainya di tahun 2023 itu Rp 397 triliun, dan di semester satu ini yang seperti disampaikan Kepala PPATK Ivan Yustiavandana itu tembus angka Rp 600 triliun lebih pada kuartal 1 di 2024,” katanya.

Menurut laporan transaksi keuangan, 32,1 persen aktivitas mencurigakan terkait dengan perjudian, sementara korupsi hanya menyumbang 7 persen. Faktanya, perjudian mendominasi dengan porsi yang signifikan, disusul penipuan sebesar 25,7 persen dan tindak pidana lainnya sebesar 12,3 persen.

Pada kesempatan yang sama, Natsir juga mengungkapkan, bahwa Indonesia adalah rumah bagi 3,2 juta penjudi online, yang terdiri dari pelajar, ibu rumah tangga, dan lainnya. Khususnya, rata-rata pembelanjaan per pemain melebihi Rp100.000, dengan hampir 80 persen dari 3,2 juta pemain diidentifikasi sering mengunjungi situs perjudian online dengan taruhan di atas Rp100.000.

Natsir menuturkan, kekhawatirannya terhadap dampak perjudian online terhadap keluarga, dengan mencontohkan rumah tangga yang memiliki pendapatan harian sebesar Rp 200.000, dimana uang sebesar Rp 100.000 yang dibelanjakan untuk perjudian online dapat mengurangi anggaran gizi keluarga secara signifikan. Dia menekankan bahwa Rp 100.000 dapat membeli susu untuk anak-anak, menyoroti konsekuensi yang mengkhawatirkan dari tren ini.

Menurut Natsir, PPATK telah mengembangkan pendekatan unik untuk mengidentifikasi akun yang terkait dengan perjudian online, termasuk memahami mekanisme peredaran uang. Ia menjelaskan, pengetahuan tersebut memungkinkan mereka melacak aliran dana dari bandar kecil hingga besar, yang sebagian beroperasi di luar negeri, dengan nilai mencengangkan melebihi Rp 5 triliun.

Natsir mengungkapkan, jaringan perjudian online ada di beberapa negara ASEAN, antara lain Thailand, Filipina, dan Kamboja, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Meski PPATK telah berupaya memblokir lebih dari 5.000 akun, namun perjudian online masih tetap terjadi akibat adanya pihak-pihak yang tidak kooperatif yang melakukan jual beli akun untuk keperluan perjudian. Natsir mengaitkan kelangsungan perjudian online dengan tingginya permintaan masyarakat dan ketersediaan akun untuk dijual. Diakuinya, Kementerian Komunikasi dan Informatika serta regulator OJK telah berupaya menekan perjudian online, namun permasalahan tetap ada.

Saat ditanya mengenai cara pengendalian perjudian online, Natsir menegaskan, bahwa taktik yang dilakukan operator perjudian online sangat beragam. Dia menyimpulkan bahwa modus operandi bandar judi ini beragam, sehingga menjadi masalah yang rumit untuk diatasi.

Sisi Gelap Perjudian Online

Salah satu panelis menceritakan pengalaman langsungnya sebagai mantan pecandu judi online. Rangga (bukan nama sebenarnya), pegawai pemerintah berusia 27 tahun, mengaku terjerumus judi online setelah tergiur iklan di YouTube dan media sosial.

Awalnya Rangga mengira itu hanya iseng dan mencobanya dengan sedikit uang. Namun setelah menang besar beberapa kali, ia menjadi ketagihan dengan adrenalin dan janji kemenangan yang lebih signifikan. Dia akhirnya tidak bisa menghitung berapa banyak uang yang hilang.

Kisah Rangga merupakan kisah yang lumrah di kalangan para pecandu judi online. Janji akan uang mudah dan sensasi kemenangan membuat mereka datang kembali untuk mendapatkan lebih banyak, meskipun ada kemungkinan yang tidak menguntungkan mereka. Ketika obsesi mereka tumbuh, mereka semakin terputus dari kenyataan dan kehilangan kendali atas tindakan mereka.

Panel tersebut juga membahas dampak mental dan emosional dari kecanduan judi online. Banyak pecandu menjadi terlindungi dari orang-orang yang mereka cintai dan mengabaikan tanggung jawab mereka, termasuk pekerjaan atau pendidikan. Ketika mereka semakin kecanduan, mereka mungkin terpaksa menjual barang-barang pribadi atau meminjam uang dari sumber berbahaya untuk mengisi kebiasaan mereka.

Akibat Kecanduan Judi Online

Selain kerugian finansial yang besar, kecanduan judi online dapat berdampak buruk pada kehidupan seseorang. Para panelis berbagi cerita tentang pernikahan dan keluarga yang terkoyak oleh kecanduan judi online. Dalam beberapa kasus, hal ini bahkan menyebabkan bunuh diri atau cedera fisik pada orang yang dicintai.

Apalagi kecanduan judi online tidak hanya berdampak pada individu saja namun juga orang-orang disekitarnya. Anak-anak mungkin menderita karena diabaikan karena orang tuanya terlalu sibuk mengejar kerugian atau bahkan meniru perilaku orang tuanya dan mengembangkan Kecanduan judi di usia muda.

Mengakhiri Kecanduan

Membebaskan diri dari kecanduan judi online memang tidak mudah, apalagi tanpa dukungan yang tepat. Dalam kasus Rangga, teman-temannyalah yang diperingatkan bahwa perilakunya sudah tidak mengendalikan dan menyarankannya untuk mencari bantuan. Konselor atau kelompok dukungan dapat memberikan bimbingan dan pemahaman yang sangat dibutuhkan bagi mereka yang berjuang melawan kecanduan judi online.

Pemerintah juga telah mengambil tindakan untuk mengatasi masalah ini, seperti memblokir akses ke situs perjudian online atau bekerja sama dengan penyedia layanan internet untuk membatasi akses. Namun, selama masih ada permintaan, akan selalu ada celah dan cara untuk melewati batasan tersebut.

Kecanduan judi online merupakan masalah serius yang tidak boleh dianggap enteng. Janji mendapatkan uang dengan mudah dan sensasi menang mungkin tampak menggiurkan, namun konsekuensi dari Kecanduan bisa sangat menghancurkan. Hal ini tidak hanya berdampak pada individu tetapi juga orang-orang yang mereka cintai dan masyarakat secara keseluruhan.

Oleh karena itu, penting untuk menyebarkan kesadaran tentang bahaya perjudian online dan memberikan dukungan bagi mereka yang berjuang melawan kecanduan. Kita juga harus mendidik diri kita sendiri dan orang yang kita sukai tentang praktik perjudian yang bertanggung jawab untuk mencegah kecanduan mengakar.

Pada akhirnya, terserah kepada individu untuk membuat keputusan sadar untuk menghindari perjudian online dan mencari bantuan jika mereka sudah jatuh ke dalam genggamannya. Jangan biarkan kecanduan siapa pun membawa pun ke jalan kehancuran. Sebaliknya, mari kita bekerja sama untuk menciptakan internet yang lebih aman dan sehat untuk semua.