Hantavirus Bisa Sebabkan Kematian, Kenali Gejalanya
Hantavirus menjadi salah satu penyakit zoonosis yang mendapat perhatian dunia karena dapat menyebabkan gangguan pernapasan hingga kematian. Virus ini ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan dapat menginfeksi manusia lewat kontak dengan urin, kotoran, atau air liur hewan yang terinfeksi.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut hantavirus sebagai kelompok virus yang secara alami menginfeksi hewan pengerat dan pada kondisi tertentu dapat menular ke manusia. Penyakit yang ditimbulkan bervariasi tergantung jenis virus dan wilayah penyebarannya.
Di kawasan Amerika Utara dan Selatan, hantavirus diketahui menyebabkan Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS), yakni penyakit serius yang menyerang paru-paru dan jantung. Tingkat kematian akibat penyakit ini dilaporkan bisa mencapai 50 persen. Sementara di Eropa dan Asia, hantavirus lebih sering menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yaitu demam berdarah yang menyerang ginjal dan pembuluh darah.
WHO menjelaskan bahwa setiap jenis hantavirus umumnya memiliki spesies hewan pengerat tertentu sebagai reservoir alami. Hewan tersebut dapat membawa virus dalam waktu lama tanpa menunjukkan tanda sakit. Meski banyak jenis hantavirus ditemukan di berbagai negara, hanya sebagian kecil yang diketahui dapat menginfeksi manusia.
Salah satu jenis yang menjadi perhatian adalah Virus Andes yang ditemukan di Amerika Selatan. Virus ini menjadi satu-satunya hantavirus yang telah terbukti dapat menular antar manusia, meski kasusnya terbatas. Penularan biasanya terjadi melalui kontak dekat dan berkepanjangan, terutama di antara anggota keluarga atau pasangan.
“Penularan antar manusia tampaknya paling mungkin terjadi pada fase awal penyakit ketika virus lebih mudah menyebar,” demikian penjelasan WHO dalam laporan resminya, dikutip, 8 Mei 2026.
Secara global, infeksi hantavirus memang tergolong jarang, namun memiliki risiko fatalitas tinggi. WHO memperkirakan terdapat sekitar 10 ribu hingga lebih dari 100 ribu kasus infeksi hantavirus setiap tahun di dunia. Beban kasus terbesar berada di Asia dan Eropa.
Di Asia Timur, terutama Tiongkok dan Republik Korea, kasus HFRS masih mencapai ribuan setiap tahun meskipun jumlahnya mengalami penurunan dalam beberapa dekade terakhir. Sementara di Eropa, ribuan kasus juga dilaporkan setiap tahun, khususnya di wilayah utara dan tengah.
Di kawasan Amerika, HCPS tercatat lebih jarang terjadi. Amerika Serikat melaporkan kurang dari seribu kasus sejak penyakit ini dikenali. Negara-negara seperti Argentina, Brasil, Chili, dan Paraguay juga melaporkan sejumlah kecil kasus setiap tahunnya. Meski jumlah kasus lebih sedikit, tingkat kematian akibat HCPS tetap tinggi, berkisar antara 20 hingga 40 persen.
Penularan hantavirus pada manusia umumnya terjadi saat seseorang menghirup partikel virus dari urin, kotoran, atau air liur tikus yang mengering dan bercampur di udara. Risiko paparan meningkat pada aktivitas yang berhubungan dengan area tertutup atau kotor yang banyak tikus, seperti membersihkan gudang, lumbung, rumah kosong, pertanian, hingga pekerjaan kehutanan.
Selain itu, tidur di tempat yang dipenuhi tikus juga meningkatkan risiko infeksi. Meski lebih jarang, penularan juga bisa terjadi akibat gigitan hewan pengerat yang terinfeksi.
Gejala awal hantavirus sering menyerupai penyakit umum lain sehingga diagnosis dini menjadi tantangan. Penderita biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, dan sakit perut dalam waktu satu hingga delapan minggu setelah terpapar virus.
Pada kasus HCPS, kondisi dapat berkembang cepat menjadi batuk berat, sesak napas, penumpukan cairan di paru-paru, hingga syok. Sedangkan pada HFRS, pasien dapat mengalami tekanan darah rendah, gangguan pembekuan darah, dan gagal ginjal.
WHO menyebut gejala awal hantavirus sering menyerupai influenza, COVID-19, leptospirosis, pneumonia virus, demam berdarah, hingga sepsis. Karena itu, riwayat paparan terhadap tikus dan lingkungan menjadi faktor penting dalam proses diagnosis.
Konfirmasi infeksi dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium seperti tes antibodi IgM dan IgG spesifik hantavirus atau metode molekuler RT-PCR yang dapat mendeteksi RNA virus pada fase akut penyakit.
Hingga saat ini belum tersedia obat antivirus khusus maupun vaksin berlisensi untuk mengatasi hantavirus. Penanganan pasien lebih difokuskan pada terapi suportif, pemantauan ketat, dan penanganan komplikasi pada paru-paru, jantung, serta ginjal.
WHO menyatakan akses cepat terhadap perawatan intensif dapat meningkatkan peluang hidup pasien, terutama pada penderita HCPS yang mengalami gangguan pernapasan berat.
Upaya pencegahan menjadi langkah utama untuk menekan penyebaran penyakit ini. WHO menganjurkan masyarakat menjaga kebersihan rumah dan tempat kerja, menutup celah masuk tikus, serta menyimpan makanan dengan aman.
Saat membersihkan area yang terkontaminasi tikus, masyarakat disarankan tidak menyapu atau menggunakan penyedot debu secara langsung karena dapat menyebarkan partikel virus ke udara. Area yang kotor sebaiknya dibasahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan.
Kebersihan tangan juga perlu diperkuat, terutama setelah beraktivitas di area yang berisiko terkontaminasi hewan pengerat.
Dalam situasi wabah, WHO menilai identifikasi dini kasus, isolasi pasien, pemantauan kontak erat, dan penerapan pengendalian infeksi menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
WHO juga terus bekerja sama dengan berbagai negara untuk memperkuat pengawasan, kapasitas laboratorium, komunikasi risiko, serta penanganan wabah hantavirus. Pendekatan One Health yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan terus dikembangkan agar penanganan penyakit zoonosis dapat dilakukan lebih efektif. ***
