Profil Rhoma Irama, Riwayat Hidup, Pendidikan dan Karier

Rhoma Irama adalah salah satu publik figur yang populer dari dulu sampai sekarang. Sosok pria yang dikenal dengan julukan raja dangdut ini mempunyai karir yang cukup baik di dunia dangdut Indonesia. Rhoma Irama banyak menciptakan lagu dangdut yang bermuatan pesan positif kepada para pendengar. Oleh karena itu, banyak lagu-lagu yang diciptakan oleh Rhoma Irama sampai saat ini masih relevan dan mempunyai banyak pendengar.

Selain itu, Rhoma Irama juga merupakan sosok musisi sekaligus politikus yang kharismatik. Ia kental dengan pakaian dan imej Islami yang selalu ia tampilkan di publik. Hal ini semakin mendorong keunikan dari pria yang juga kerap disapa Bang Haji Rhoma ini. Oleh karena itu, profil tentang Rhoma Irama ini menjadi penting untuk diketahui khalayak umum. Artikel ini akan membahas tentang profil Rhoma Irama sejak lahir, pendidikan, hingga karier baik di bidang musik maupun politik. Simak artikel ini sampai tuntas.

Riwayat Hidup Rhoma Irama

Masa Kecil dan Keluarga

Raden Oma Irama tau yang dikenal dengan nama Rhoma Irama merupakan seorang pria yang lahir pada 11 Desember 1946 di Tasikmalaya. Rhoma Irama lahir dari pasangan Raden Irama Burdah Anggawirya dan Turi Juariah. Rhoma Irama lahir dari keturunan ningrat dan merupakan anak kedua dari 14 bersaudara. ia mempunyai saudara 8 laki-laki dan 6 perempuan. Dari 14 itu, 8 saudara kandung, 4 saudara satu ibu, dan 2 lainnya saudara tiri.

Ayah Rhoma Irama merupakan sosok yang cukup masyhur pada masanya. Ia adalah Raden Burdah Anggawirya, seorang komandan gerilyawan Garuda Putih. Salah satu pertempuran terbesar yang dilakukan oleh Garuda Putih ini adalah ketika pencegatan sebuah konvoi Belanda di Gunung Kecapi, Tasikmalaya pada 17 Agustus 1947.

Sejak kecil, pria yang sekarang menjadi raja dangdut ini sudah memperlihatkan bakat bermusiknya. Menurut catatan, tangis bayi dari Rhoma Irama bisa berhenti ketika ia mendengar sebuah lagu. Oleh karena itu, sang ibu selalu memperdengarkan lagu kepada Rhoma Irama. Bahkan, sebelum masuk ke sekolah, Rhoma Irama sudah menunjukkan ketertarikannya pada dunia musik.

Ketika menginjak sekolah dasar, Rhoma Irama semakin menunjukkan bakat bermusiknya. Ketika masih kecil, ia bahkan sudah gemar menyanyikan lagu-lagu Barat dan juga India dengan baik. Rhoma Irama semakin terlihat bakat bermusiknya ketika ia semakin memperluas referensi lagu dengan menikmati lagu-lagu Timur Tengah dari Ummu Kultsum.

Ayahnya meninggal ketika ia masih duduk di bangku kelas 5 SD dan meninggalkan 8 anak. Ibunya kemudian menikah lagi dengan seorang perwira ABRI, Raden Soma Wijaya yang juga mempunyai darah ningrat. Dari sang ayah tirinya, Rhoma Irama mendapatkan keleluasaan untuk bisa belajar banyak hal, terutama musik. Sang ayah bahkan membelikan Rhoma Irama alat musik seperti gitar, bongo, dan lain sebagainya.

Rhoma Irama remaja, masuk ke sebuah SMA, yaitu SMA Negeri VIII Jakarta. Rhoma saat itu dikenal sebagai seorang murid yang cukup bandel, pasalnya, tidak hanya ikut dalam geng remaja, Rhoma Irama juga menjadi pemimpin dari geng tersebut. Sehingga itu berdampak langsung pada kehidupan sekolah yang ia jalani. Pada masa SMA, Rhoma Irama dikatakan beberapa kali pindah sekolah, hingga akhirnya ia menetap di SMA 17 Agustus Tebet, Jakarta. SMA tersebut terletak tidak jauh dari rumahnya.

Menjadi Pengamen di Solo

Sebelum lulus SMA, salah satu kisah unik yang penting sekali untuk diulas adalah perihal bahwa sosok ningrat Rhoma Irama pernah menjadi seorang pengamen di Solo karena terdampar. Ketika itu Rhoma bermaksud untuk melanjutkan pendidikan dan menuntut ilmu agama di Pesantren Tebuireng, Jombang.

Rhoma tidak mempunyai biaya untuk berangkat ke Jombang, hingga akhirnya dengan modal nekat, ia pergi. Dari Jakarta, ia bersama dengan Benny kakaknya dan tiga orang temannya, Daeng, Umar, dan Haris. Tanpa membawa uang, Rhoma akhirnya kucing-kucingan dengan kondektur bus agar bisa naik bus tanpa harus membeli karcis, dan akhirnya turun di Stasiun Yogyakarta.

Dari Yogya, Rhoma dan tiga temannya kemudian menumpang sebuah kereta untuk sampai di Kota Solo. Di Solo ia terpaksa harus menjadi pengamen jalanan dan ditampung oleh seorang pengamen jalanan bernama Mas Gito untuk tinggal di rumahnya. Di sana, Rhoma sempat melanjutkan pendidikan SMA nya di SMA St. Joseph dengan biaya yang ia peroleh dari mengamen.

Pendidikan Rhoma Irama

Rhoma Irama pada masa SMP tercatat pernah beberapa kali pindah sekolah. Ia juga dikatakan beberapa kali tidak naik kelas karena kenakalan yang ia lakukan di masa remaja. Pada kelas 3 SMP, Rhoma Irama pernah bersekolah di Medan dan tinggal di rumah pamannya, namun tidak lama kemudian ia kembali dan bersekolah di SMP Negeri XV Jakarta.

Masa SMA Rhomap dikatakan pernah membolos dari kelas dan kabur dengan lewat jendela karena ingin bermain musik dengan teman-temannya. Ia juga sering berkelahi dengan teman-temannya ketika masih bersekolah di SMA Negeri VIII Jakarta. Ketika melanjutkan sekolah di SMA St. Joseph di Solo, ia tidak lulus, Rhoma kemudian memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan melanjutkan pendidikannya di SMA 17 Agustus sampai lulus pada tahun 1964.

Rhoma tidak melanjutkan kembali pendidikan formalnya. Dikatakan bahwa ia sebetulnya sempat meneruskan untuk menempuh pendidikan di jenjang yang lebih tinggi yaitu sarjana di Fakultas Sosial Politik Universitas 17 Agustus. Namun, banyak riwayat yang mengatakan bahwa Rhoma tidak melanjutkan sampai tuntas dan lebih memilih untuk menjadi seorang pemusik.

Meskipun ia tidak melanjutkan pendidikan tinggi, Rhoma Irama dengan bakat bermusik dan karirnya yang bagus, memperoleh gelar doktor honoris causa dari American University of Hawaii dalam bidang dangdut pada Februari tahun 2005.

Istri dan Anak Rhoma Irama

Pada tahun 1972, Rhoma Irama menikah dengan seorang perempuan mualaf bernama Veronica. Dari pernikahan itu ia dikaruniai 4 orang anak yaitu Debby Veramasari, Fikri Irama, dan Romy. Rhoma dan Veronica bercerai pada Mei 1985. Namun, satu tahun sebelum cerai, Rhoma sudah menikah dengan seorang perempuan yang bernama Ricca Rachim. Ricca juga merupakan seorang Nasrani yang juga mualaf. Ricca adalah perempuan yang kerap bermain film dengan Rhoma Irama dan juga perempuan yang aktif di dunia hiburan.

Selanjutnya, Rhoma Irama juga sempat dikabarkan pernah menikah dengan seorang perempuan bernama Marwah Ali. Namun, pernikahan itu sangat minim informasi dan tidak banyak media yang memberitakan pernikahan tersebut. Dari pernikahan bersama dengan Marwah Ali, Rhoma ia dikaruniai anak Ridho Roma yang lahir pada tahun 1989.

Pada tahun 1999, Rhoma Irama juga dikabarkan pernah menikah dengan seorang perempuan asal Solo yang bernama Gita Andini Saputri. Dari pernikahan tersebut, Rhoma memiliki seorang anak bernama Adam Ghifari. Dari semua pernikahan yang dijalaninya, Rhoma rupanya pernah melakukan pernikahan siri dengan seorang artis sinetron Angel Lelga. Ia mengumumkan telah menikah secara agama dengan artis tersebut pada 6 Maret 2003.

Karier di Dunia Hiburan

Karier Musik

Jauh sebelum ia dikenal sebagai sosok pemusik, Rhoma Irama memulai karirnya sebagai seorang bintang film kanak-kanak yaitu Djendral Kantjil sekitar tahun 1958. Namun, Rhoma Irama adalah sosok pria yang gemar sekali bermain musik. Sehingga ia memulai karier musik tersebut sejak usia 11 tahun. Saat itu, ia sudah menjadi seorang penyanyi, gitaris.

Ia mengawali karier musiknya ketika  membentuk sebuah grup Gayhand pada tahun 1963. Ia kemudian berpindah lagi ke grup Orkes Chandra Leka, dan akhirnya membentuk sebuah band sendiri pada Desember tahun. 1970 yang ia beri nama Soneta Group. Bersama dengan Soneta, Rhoma Irama sukses dengan memperoleh 11 Golden Record dari kaset-kasetnya.

Nama Rhoma Irama pun semakin lama semakin melesat. Ia dikenal sebagai orang yang memperkenalkan dan memperluas popularitas musik dangdut yang sering ia sebut sebagai musik irama melayu itu. Rhoma menggabungkan beberapa unsur musik di dalam lagunya seperti Melayu, pop, rock, dan lagu India. Lirik-lirik yang ia ciptakan juga merupakan sebuah lirik yang mengandung pesan agama, percintaan, dan bahkan kritik sosial

Bersama dengan grup Soneta yang ia bentuk, Rhoma Irama tercatat pernah merilis 18 album sepanjang kariernya. Selain itu, banyak sekali lagu-lagu populer yang ia ciptakan dan sampai sekarang masih menjadi salah satu lagu yang populer seantero Nusantara. Beberapa lagu yang hingga kini masih menjadi idola bagi sebagian besar masyarakat Indonesia adalah Begadang (1993), Bujangan (1994, Darah Muda (1995), Mirasantika (1997).

Rhoma Irama bukanlah musisi dan artis yang hanya digemari di dalam negeri. Kariernya sebagai seorang musisi juga dinikmati oleh masyarakat dari negara tetangga seperti Kuala Lumpur, Singapura, dan Brunei. Di sana, ia mendapatkan penggemar yang sama besarnya dengan ketika ia berada di Indonesia. Bahkan, penonton yang datang ke konser Rhoma di negara-negara tersebut pun tidak kalah banyak dari penonton yang datang ke konser Rhoma di Indonesia.

Kesuksesan Rhoma Irama dalam membuat musik dangdut menjadi salah satu musik yang digemari oleh banyak orang membuatnya semakin dikenal. Bahkan pada 13 Oktober 1973, Rhoma Irama merencanakan sebuah semboyan yaitu Voice of Moslem (Suara Muslim) dengan tujuan untuk menjadi agen atau pembaharu di dunia musik. Ia memadukan musik rock dan melayu dan melakukan berbagai macam improvisasi terhadap aransemen musik, syair, lirik, kostum, dan penampilan di atas panggung.

Atas jeniusnya Rhoma Irama dalam hal mengawinkan berbagai unsur musik menjadi musik yang khas ala Rhoma Irama, ia bahkan dikatakan sebagai Rhoma Pionir. Selain itu, perpaduan dari berbagai genre musik yang menjadi satu itulah yang kemudian membuat nuansa musik yang diciptakan oleh Rhoma Irama terdengar sangat berbeda dan unik.

Rhoma Irama mendapatkan gelar sebagai raja adalah ketika Majalah Asia Week edisi XVI yang terbit pada bulan Agustus 1985 menyebutkan bahwa Rhoma Irama merupakan Raja Musik Asia Tenggara. Gelar tersebut ia dapatkan ketika majalah tersebut melakukan liputan tentang pertunjukan konser Soneta Group yang digelar di Kuala Lumpur.

Tidak hanya itu, Rhoma Irama juga mendapatkan penghargaan dari majalah yang berasal dari Amerika Serikat. Di tahun 1992, Majalah Entertainment di edisi Februari menyebutkan bahwa Rhoma Irama sebagai The Indonesian Rocker. Dari sorotan dan julukan tersebut semakin memuluskan laju karier sosok Rhoma Irama sebagai salah satu pemusik terbaik di dunia.

Di tahun 1994, karier di dunia musik Rhoma Irama berkembang pesat ketika ia menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan perusahaan musik Life Record di jepang. Dari kesepakatan tersebut, 200 judul lagu milik Rhoma Irama akan direkam ulang dalam bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Hal itu dilakukan dalam rangka untuk memperkenalkan musik Rhoma Irama di pasar internasional.

Karier Film

Selain sukses menjadi seorang musisi dan merajai dunia musik beraliran dangdut yang khas, Rhoma Irama juga melebarkan sayapnya untuk melanjutkan kariernya di dunia perfilman. Sejak tahun 1977, Rhoma mulai masuk ke dunia peran dengan membintangi sebuah film berjudul Jakarta Jakarta. Dari film tersebut ia kemudian mendapatkan kesempatan untuk menjadi aktor di beberapa film setelahnya seperti Salah Kamar (1978), Wadam (1978), Bayang-Bayang Kelabu (1979), Cinta Camelia (1979), Satria Bergitar (1983), dan Pengabdian (1984) dan lain sebagainya.

Kariernya di dunia film bahkan mengatakan bahwa semua film yang dibintangi oleh si raja dangdut tersebut sukses menarik perhatian penonton. Namun, meskipun ia sukses membintangi berbagai film, Rhoma mengaku bahwa ia tidak pernah makan dari uang film. Benny, kakak Rhoma mengatakan bahwa uang yang dihasilkan dari film selalu ia sumbangkan untuk masjid, yatim piatu, kehiatan remaja, dan perbaikan kampung.

Karier Politik Rhoma Irama

Tidak hanya di dunia musik dan film, Rhoma Irama juga berkecimpung di dunia politik. Karier politik Rhoma Irama ia mulai pada tahun 1977. Saat itu ia menjadi juru kampanye PPP dan hanya menjadi seorang simpatisan. Selanjutnya pada tahun 1970-1980, Rhoma Irama mengalami masa sulit karena PPP bersitegang dengan Golkar. Rhoma mendapatkan berbagai ancaman dari pemerintah dan ia dilarang tampil di TVRI.

Pada tahun 1993, Rhoma Irama pernah menjadi anggota MPR sebagai utusan golongan yang mewakili seniman atau artis sampai tahun 1997. Hal yang tidak terduga dan mengagetkan pendukung Rhoma adalah ketika pada tahun 1996 ia memutuskan untuk bergabung dengan Golkar dan menjadi juru kampanye untuk Pemilu tahun 1997. Sedangkan pada tahun 2005, Rhoma Irama sempat tampil sebagai juru kampanye dari PKS.

Hingga pada tahun 2015, Rhoma Irama memutuskan keputusan yang sangat besar dengan mendirikan sebuah partai politik yang diberi nama Partai Idaman. Partai tersebut berdiri pada 14 Oktober 2015 dan menempatkan dirinya sebagai ketua umum. Namun, setelah berdiri, partai yang baru ia bentuk tersebut gagal dan tidak memenuhi syarat kelolosan untuk mengikuti Pemilu tahun 2019. Pada Oktober tahun 2018, Rhoma Irama juga ikut serta dalam pemilihan Presiden. Ia mendeklarasikan diri mendukung pasangan calon Presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Demikian adalah artikel tentang profil Rhoma Irama dari riwayat hidup sampai dengan kariernya baik di bidang politik maupun bidang musik. Umur Rhoma Irama kini sudah 77 tahun dan masih aktif di dunia hiburan.

Ia masih sering pentas di atas panggung dengan Soneta dan juga kadang-kadang menjadi juri di salah satu kompetisi dangdut di stasiun televisi. Rhoma Irama sekarang juga sedang aktif di channel YouTube dan sering melakukan wawancara dengan orang-orang penting.

Referensi dari barbagai sumber

Komentar