Modernisasi kapal selam menjadi salah satu kebutuhan yang kembali dibahas di tengah luasnya wilayah laut Indonesia dan meningkatnya dinamika keamanan kawasan. Kesenjangan kesiapan armada dinilai perlu diantisipasi sebelum kemampuan kapal selam generasi baru Indonesia dapat beroperasi penuh pada masa mendatang.
Hal tersebut dibahas dalam “Ngobrolin Pertahanan Indonesia (Ngopi) de’Talkshow Episode ke-4” yang digelar Marapi Consulting & Advisory. Diskusi menghadirkan Laksda TNI (Purn) Iwan Isnurwanto, Dr. Ir. Yono Reksoprodjo dari KKIP, serta Alman Helvas Ali dari Marapi Consulting & Advisory.
Iwan yang pernah menjabat Asrena Kasal dan memiliki pengalaman panjang di satuan kapal selam menjelaskan nilai strategis kapal selam. Menurut dia, kemampuan kapal selam terletak pada daya gentarnya karena keberadaan, jumlah unit yang siap beroperasi, dan waktu serang sulit diketahui lawan.
“Kapal selam itu mempunyai strategic deterrence karena dia tidak diketahui di mana keberadaannya, berapa yang mampu beroperasi dan kapan menyerangnya,” kata Iwan dalam diskusi itu.
Indonesia saat ini mengoperasikan empat kapal selam, terdiri atas satu unit Tipe 209 KRI Cakra 401 dan tiga unit DSME 209 Nagapasa-class. Armada tersebut menghadapi tantangan berupa usia dan kematangan desain, yang berdampak pada operational availability, siklus pemeliharaan, serta rotasi awak.
Iwan juga menyebut, perkembangan teknologi seperti unmanned underwater vehicle (UUV) dan kecerdasan buatan menuntut peningkatan kesiapan personel maupun platform. Menurutnya, Indonesia perlu membangun kekuatan dengan fokus pada satu platform yang dapat dikuasai secara menyeluruh agar kemampuan peperangan kapal selam semakin mandiri.
Yono Reksoprodjo menilai pembangunan kekuatan kapal selam harus diawali dengan pemetaan ancaman, kebutuhan kemampuan, serta konsep operasi. Kondisi geografis Indonesia dengan choke point dan ALKI membuat kemampuan kapal selam tetap dibutuhkan.
Ia juga mengingatkan, bahwa kemandirian pertahanan tidak cukup melalui pembangunan fasilitas perakitan. Ekosistem industri yang melibatkan pemasok tier 1, tier 2, dan tier 3, kemampuan engineering, manufacturing, serta MRO perlu dibangun secara berkelanjutan.
Menurut Yono, mekanisme offset juga dapat digunakan untuk memperoleh transfer teknologi, baik melalui keterlibatan langsung dalam proyek maupun secara tidak langsung seperti pengadaan simulator dan laboratorium. Jeda panjang antara kontrak pengadaan, katanya, juga berisiko membuat keterampilan dan pengetahuan tim sebelumnya hilang.




