Garibaldi Tiba 2026, Tantangan Sesungguhnya Ada di Refurbishment
Akuisisi kapal induk ringan ITS Giuseppe Garibaldi dari Italia masih memicu perdebatan di kalangan pemerhati militer Indonesia. Sebagian menilai langkah tersebut sebagai keputusan strategis untuk memperkuat armada TNI AL, sementara yang lain mempertanyakan efektivitas penggunaan anggaran untuk kapal yang telah berusia lebih dari 40 tahun. Namun di tengah perdebatan itu, ada satu hal yang justru dinilai lebih penting, yakni bagaimana proses refurbishment atau pembaruan kapal dilakukan agar Garibaldi benar-benar bisa beroperasi sesuai kebutuhan Indonesia.
Isu ini menjadi pembahasan dalam podcast Marapi Consulting & Advisory yang dirilis pada 8 Juni 2026. Pengamat militer Gerry Soejatman dan Konsultan Marapi Consulting & Advisory Alman Hevas Ali menilai keberhasilan pemanfaatan ITS Giuseppe Garibaldi nantinya akan sangat bergantung pada arah penggunaan dan kualitas modernisasi yang dilakukan setelah kapal tiba di Indonesia pada akhir 2026.
Menurut Gerry Soejatman, publik perlu memahami terlebih dahulu bahwa ITS Giuseppe Garibaldi bukan kapal induk besar seperti milik Amerika Serikat. Kapal tersebut masuk kategori kapal induk ringan atau helicopter carrier yang memiliki kemampuan berbeda.
“Kalau kita salah memahami kelas kapal ini, maka ekspektasi yang muncul juga akan salah,” kata Gerry melalui rilis Marapi Consulting & Advisory diterima media ini, Rabu 10 Juni 2026.
Ia menjelaskan, Garibaldi lebih cocok digunakan untuk mendukung operasi di wilayah perairan Indonesia, terutama sebagai kapal pembawa helikopter untuk patroli, pengawasan, bantuan kemanusiaan maupun operasi militer di dalam negeri. Kapal tersebut tidak dirancang untuk menggelar operasi udara berskala besar seperti kapal induk utama yang membawa puluhan pesawat tempur.
Menurut Gerry, desain Garibaldi yang dibuat untuk kebutuhan Angkatan Laut Italia justru memiliki kesamaan dengan kondisi geografis Indonesia. Karena itu, kapal tersebut dinilai masih relevan selama digunakan sesuai fungsinya.
Sementara itu, Alman Hevas Ali menilai pembahasan mengenai kapal induk sering kali langsung dikaitkan dengan konsep blue water navy atau kemampuan operasi jauh dari wilayah nasional. Padahal, menurutnya, penggunaan kekuatan laut harus disesuaikan dengan kepentingan Indonesia.
“Angkatan Laut adalah instrumen politik negara. Gelar kekuatannya harus mengikuti kebutuhan nasional,” ujarnya.
Alman mengatakan kepentingan Indonesia saat ini lebih banyak berkaitan dengan pengamanan jalur pelayaran strategis, perlindungan wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), serta menjaga stabilitas kawasan. Karena itu, keberadaan Garibaldi perlu dilihat dalam konteks kebutuhan tersebut, bukan disamakan dengan kebutuhan negara-negara yang memiliki kepentingan militer global.
Meski demikian, Gerry menilai Garibaldi tetap dapat digunakan untuk misi di luar negeri apabila diperlukan. Salah satu contohnya adalah operasi evakuasi warga negara Indonesia dari wilayah konflik atau daerah yang mengalami krisis.
“Untuk misi diplomatik dan kemanusiaan, kapal seperti ini bisa sangat berguna karena mampu bergerak cepat dan membawa banyak personel maupun helikopter,” katanya.
Terkait rencana anggaran refurbishment yang disebut mencapai Rp7,2 hingga Rp7,5 triliun, kedua narasumber sepakat bahwa langkah tersebut merupakan kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Kapal yang terakhir menjalani perawatan besar pada 2014 itu memerlukan pembaruan agar dapat beroperasi aman dan efektif dalam jangka panjang.
Gerry menjelaskan bahwa pembaruan yang dilakukan tidak harus mengubah struktur kapal secara besar-besaran. Fokus utama sebaiknya diarahkan pada peningkatan sistem dan kesiapan operasional sesuai fungsi yang telah ditetapkan.
Menurut Alman, jika dilakukan secara maksimal, refurbishment dapat memperpanjang usia operasional Garibaldi hingga sekitar tahun 2040. Karena itu, dana yang disiapkan pemerintah seharusnya dipandang sebagai investasi untuk memastikan kapal tetap layak digunakan selama bertahun-tahun ke depan.
Alman juga mengingatkan agar proses refurbishment awal dilakukan oleh Fincantieri, galangan kapal Italia yang selama ini menangani pemeliharaan Garibaldi. Menurutnya, perusahaan tersebut memiliki catatan lengkap mengenai kondisi kapal sehingga menjadi pihak yang paling memahami kebutuhan perbaikannya.
Di saat yang sama, Indonesia juga perlu memanfaatkan proses tersebut untuk meningkatkan kemampuan galangan nasional dalam bidang maintenance, repair and overhaul (MRO) agar perawatan lanjutan dapat dilakukan di dalam negeri.
Perdebatan soal pembelian ITS Giuseppe Garibaldi kemungkinan masih akan terus berlangsung. Namun satu hal yang menjadi kesimpulan dari diskusi tersebut adalah bahwa masa depan kapal ini tidak ditentukan oleh usianya, melainkan oleh bagaimana Indonesia melakukan refurbishment dan menetapkan peran yang tepat bagi kapal tersebut dalam sistem pertahanan nasional. (Red)


