Krakatau 1883, Colo 1983, Anak Krakatau 2026: Ada Apa dengan Angka 83?

Muh. Rifai
Ilustrasi Foto: Ai
A-AA+A++

Yang paling menarik bagi Sulawesi Tengah adalah Gunung Colo di Pulau Una-Una.

Colo mulai mengalami erupsi pada 18 Juli 1983 dan aktivitasnya berlangsung hingga Desember. Erupsi tersebut mencapai VEI 4, jauh lebih besar dibanding aktivitas Marapi yang tercatat VEI 1 pada tahun yang sama.

Dengan demikian, kalau seseorang bertanya, “Apakah tahun 1983 memang tahun yang penuh aktivitas gunung api?”, jawabannya adalah ya, berdasarkan catatan erupsi yang tersedia memang terdapat sejumlah aktivitas penting.

Tetapi pertanyaan berikutnya jauh lebih sulit.

Apakah 1883 dan 1983 Memiliki Hubungan?

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Jarak antara 1883 dan 1983 memang tepat 100 tahun.

Namun, kesamaan angka tahun tidak otomatis berarti ada hubungan vulkanologis.

Gunung api tidak bekerja berdasarkan kalender. Aktivitasnya dipengaruhi oleh proses magma, tekanan, sistem hidrotermal, struktur geologi, dan kondisi tektonik masing-masing gunung.

Karena itu, tidak tepat jika kemudian muncul kesimpulan bahwa setiap 100 tahun akan terjadi siklus erupsi besar pada tahun berakhiran 83.

Data yang ada justru menunjukkan bahwa aktivitas gunung api Indonesia berlangsung hampir setiap tahun dan pada banyak gunung dengan pola yang berbeda-beda.

Dengan kata lain, angka 83 adalah fakta sejarah yang menarik, tetapi belum menjadi bukti adanya siklus alam.

Lalu Mengapa Angka 83 Kembali Dibicarakan pada 2026?

Pertanyaan ini muncul karena Indonesia kembali menyaksikan aktivitas Gunung Anak Krakatau pada 2026.

Dalam laporan resminya, Badan Geologi menyebut Anak Krakatau sebagai gunung api aktif tipe A di perairan Selat Sunda. Badan Geologi juga mencatat adanya erupsi pada Juli 2026 dan pada September 2026 kembali menerbitkan laporan mengenai fenomena erupsi menerus Anak Krakatau.

Di sinilah publik kemudian menghubungkan angka:

1883 — Krakatau meletus dahsyat
1983 — sejumlah gunung api Indonesia kembali erupsi, termasuk Colo
2026 — Anak Krakatau kembali menjadi sorotan

Secara matematis, angka tersebut memang mudah membuat orang bertanya-tanya.

Tetapi secara ilmiah, belum ada alasan untuk menyebut 2026 sebagai bagian dari siklus 83 atau siklus 100 tahunan.