Ada satu angka yang belakangan kembali menarik perhatian publik ketika aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat: 83.
Bukan tanpa alasan. Dalam sejarah kegunungapian Indonesia, angka tersebut muncul pada dua tahun yang sama-sama menyimpan catatan aktivitas vulkanik penting, yakni 1883 dan 1983.
Tahun 1883 tentu tidak bisa dilepaskan dari tragedi besar Krakatau. Sementara 100 tahun kemudian, pada 1983, sejumlah gunung api di Indonesia kembali tercatat mengalami erupsi, termasuk Gunung Colo di Sulawesi Tengah yang aktivitasnya berlangsung berbulan-bulan.
Lantas, apakah semua ini menunjukkan sebuah pola?
Jawabannya: belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan demikian.
Namun, data sejarahnya memang cukup menarik untuk ditelusuri.
1883: Tahun ketika Krakatau Mengubah Sejarah
Catatan Smithsonian Global Volcanism Program menunjukkan Krakatau mengalami erupsi sejak 20 Mei 1883 dan berlangsung hingga sekitar Oktober tahun yang sama. Erupsi tersebut mencapai VEI 6, salah satu tingkat erupsi terbesar dalam catatan sejarah modern.
Puncaknya terjadi pada 26–27 Agustus 1883.
Ledakan besar menghancurkan sebagian besar tubuh Krakatau dan memicu tsunami yang kemudian menewaskan puluhan ribu orang di kawasan Selat Sunda.
Badan Geologi juga masih menjadikan peristiwa 1883 sebagai bagian penting dalam sejarah Anak Krakatau. Dalam laporan resminya, Badan Geologi menyebut erupsi besar 1883 menghasilkan tsunami. Anak Krakatau sendiri merupakan gunung api yang tumbuh setelah kehancuran Krakatau tersebut.
Tetapi ada fakta lain yang menarik.
Krakatau bukan satu-satunya gunung api Indonesia yang tercatat aktif pada 1883.
Data Smithsonian mencatat Merapi, Lamongan, Marapi, Sundoro, Awu dan Karangetang juga mengalami erupsi pada tahun tersebut. Bahkan Marapi tercatat mengalami aktivitas dari Juni hingga Agustus 1883, sementara Awu dan Karangetang tercatat erupsi pada 25–26 Agustus, bertepatan dengan fase klimaks Krakatau.
Di sinilah angka 1883 mulai terlihat menarik.
Seratus Tahun Kemudian: 1983
Tepat satu abad kemudian, catatan vulkanologi kembali menunjukkan sejumlah gunung api Indonesia mengalami erupsi.
Data Smithsonian mencatat aktivitas Iliboleng, Karangetang, Marapi, Colo, Gamalama, Iliwerung, Tangkuban Parahu dan Tengger Caldera pada 1983.
Yang paling menarik bagi Sulawesi Tengah adalah Gunung Colo di Pulau Una-Una.
Colo mulai mengalami erupsi pada 18 Juli 1983 dan aktivitasnya berlangsung hingga Desember. Erupsi tersebut mencapai VEI 4, jauh lebih besar dibanding aktivitas Marapi yang tercatat VEI 1 pada tahun yang sama.
Dengan demikian, kalau seseorang bertanya, “Apakah tahun 1983 memang tahun yang penuh aktivitas gunung api?”, jawabannya adalah ya, berdasarkan catatan erupsi yang tersedia memang terdapat sejumlah aktivitas penting.
Tetapi pertanyaan berikutnya jauh lebih sulit.
Apakah 1883 dan 1983 Memiliki Hubungan?
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Jarak antara 1883 dan 1983 memang tepat 100 tahun.
Namun, kesamaan angka tahun tidak otomatis berarti ada hubungan vulkanologis.
Gunung api tidak bekerja berdasarkan kalender. Aktivitasnya dipengaruhi oleh proses magma, tekanan, sistem hidrotermal, struktur geologi, dan kondisi tektonik masing-masing gunung.
Karena itu, tidak tepat jika kemudian muncul kesimpulan bahwa setiap 100 tahun akan terjadi siklus erupsi besar pada tahun berakhiran 83.
Data yang ada justru menunjukkan bahwa aktivitas gunung api Indonesia berlangsung hampir setiap tahun dan pada banyak gunung dengan pola yang berbeda-beda.
Dengan kata lain, angka 83 adalah fakta sejarah yang menarik, tetapi belum menjadi bukti adanya siklus alam.
Lalu Mengapa Angka 83 Kembali Dibicarakan pada 2026?
Pertanyaan ini muncul karena Indonesia kembali menyaksikan aktivitas Gunung Anak Krakatau pada 2026.
Dalam laporan resminya, Badan Geologi menyebut Anak Krakatau sebagai gunung api aktif tipe A di perairan Selat Sunda. Badan Geologi juga mencatat adanya erupsi pada Juli 2026 dan pada September 2026 kembali menerbitkan laporan mengenai fenomena erupsi menerus Anak Krakatau.
Di sinilah publik kemudian menghubungkan angka:
1883 — Krakatau meletus dahsyat
1983 — sejumlah gunung api Indonesia kembali erupsi, termasuk Colo
2026 — Anak Krakatau kembali menjadi sorotan
Secara matematis, angka tersebut memang mudah membuat orang bertanya-tanya.
Tetapi secara ilmiah, belum ada alasan untuk menyebut 2026 sebagai bagian dari siklus 83 atau siklus 100 tahunan.
Bahkan, jika kita melihat sejarah Anak Krakatau sendiri, gunung tersebut telah beberapa kali mengalami aktivitas setelah kelahirannya pasca-1883. Jadi aktivitas pada 2026 tidak harus menunggu datangnya sebuah “siklus”.
Yang Lebih Menarik Justru Ada di Balik Angka Itu
Mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan:
“Apakah angka 83 merupakan pertanda?”
Melainkan:
“Mengapa pada tahun 1883 dan 1983 sama-sama terdapat catatan aktivitas vulkanik penting di Indonesia?”
Pertanyaan tersebut jauh lebih layak diteliti.
Sebab, data memang menunjukkan bahwa kedua tahun tersebut memiliki sejumlah catatan erupsi. Tetapi untuk menyatakan adanya hubungan antara keduanya, diperlukan analisis yang jauh lebih luas: jumlah gunung yang erupsi setiap tahun, magnitude atau VEI, lokasi, mekanisme tektonik, hingga hubungan temporal antarerupsi.
Tanpa analisis tersebut, kesamaan angka hanyalah sebuah pola kalender yang menarik, bukan pola geologi.
Dan mungkin justru di situlah pelajaran pentingnya.
Gunung api tidak mengenal angka 83. Manusialah yang melihat pola di dalam sejarah.
Yang harus dilakukan adalah menguji pola tersebut dengan data, bukan memaksakan data agar sesuai dengan pola.
Untuk saat ini, yang bisa dipastikan adalah satu hal: 1883 memang merupakan tahun monumental dalam sejarah Krakatau, sementara 1983 juga menyimpan sejumlah catatan erupsi penting di Indonesia, termasuk erupsi besar Gunung Colo di Sulawesi Tengah.
Selebihnya?
Biarkan data vulkanologi yang menjawab. (Red)
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan catatan historis dan sumber resmi vulkanologi. Kesamaan angka tahun 1883 dan 1983 merupakan fakta sejarah, tetapi belum menjadi bukti adanya siklus atau hubungan ilmiah. Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai prediksi maupun klaim adanya pola erupsi berdasarkan angka “83”.




