Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, masih berlangsung hingga Sabtu (5/9) pagi. Erupsi menerus sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB disertai dentuman dan suara gemuruh, tetapi kondisi gunungapi saat ini tidak menunjukkan potensi keruntuhan tubuh gunung dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Dentuman dan suara gemuruh terdengar dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari erupsi yang masih berlangsung di kawasan gunungapi.
Kondisi ini membuat kekhawatiran kembali muncul di tengah masyarakat, khususnya warga pesisir Banten dan Lampung. Pengalaman tsunami pada 22 Desember 2018 yang berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu alasan kekhawatiran tersebut.
Namun, berdasarkan evaluasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), tubuh Gunung Anak Krakatau yang kembali terbentuk setelah erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil.
PVMBG menilai kondisi tersebut tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Masyarakat karena itu diminta tidak panik dan tidak mengambil kesimpulan sendiri hanya berdasarkan suara dentuman maupun aktivitas visual gunungapi.
Meski begitu, pemantauan tetap dilakukan secara intensif. PVMBG terus mengamati perkembangan aktivitas serta perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau untuk mengantisipasi perubahan kondisi.
Laporan aktivitas periode Sabtu (5/9) pukul 00.00–06.00 WIB mencatat erupsi masih berlangsung. Secara visual, aktivitas tersebut diinterpretasikan sebagai fenomena lava fountain atau lava air mancur yang terlihat pada malam hari.
Gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat kabut 0–III. Asap kawah tidak teramati dalam periode pengamatan tersebut.
Kamera CCTV pengamatan di lapangan juga dilaporkan tidak beroperasi setelah terkena lontaran material vulkanik. Dari sisi kegempaan, tercatat satu kejadian letusan dengan amplitudo 70 milimeter dan durasi 21.600 detik.
Cuaca di sekitar gunungapi dilaporkan berawan hingga mendung. Angin bertiup lemah hingga sedang menuju arah barat laut.
Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III atau Siaga. PVMBG melalui Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merekomendasikan masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak mendekati gunungapi atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
BNPB bersama PVMBG dan BPBD meminta kewaspadaan tetap disertai ketenangan. Pemerintah daerah bersama unsur terkait perlu memastikan tidak ada masyarakat maupun wisatawan berada di radius bahaya.
Pengawasan dan patroli di kawasan tersebut juga perlu terus diperkuat untuk mencegah masyarakat memasuki zona terlarang. Kesiapsiagaan turut perlu ditingkatkan dengan memastikan jalur evakuasi, titik kumpul, sarana komunikasi, serta kebutuhan dasar masyarakat siap digunakan.
Masyarakat diminta mematuhi setiap arahan petugas dan tidak mendekati kawasan gunungapi hanya untuk menyaksikan atau merekam erupsi. Informasi yang belum terverifikasi, termasuk isu mengenai potensi tsunami, sebaiknya tidak disebarluaskan karena dapat memicu kepanikan.
BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. PVMBG akan melakukan evaluasi secara berkala maupun sewaktu-waktu jika terdapat perubahan signifikan pada aktivitas atau morfologi gunungapi. ***






