Laut Maluku memiliki sejarah panjang terkait peristiwa tsunami yang tercatat sejak abad ke-17 hingga masa modern. Catatan ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut merupakan kawasan rawan bencana akibat aktivitas tektonik dan vulkanik yang tinggi.

Mengutip akun Instagram Resmi, mantan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, sejumlah peristiwa tsunami di Laut Maluku telah terdokumentasi sejak tahun 1608. Berdasarkan catatan sejarah, tsunami pertama yang tercatat terjadi di wilayah Gamalama, Pulau Makian, dan Ternate. Pada peristiwa tersebut, gelombang laut besar menyebabkan banyak kapal mengalami kerusakan. Kondisi ini menunjukkan bahwa sejak ratusan tahun lalu, aktivitas geologi di kawasan ini sudah berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat pesisir.

Memasuki tahun 1673, tsunami kembali terjadi di wilayah Maluku Utara. Sumber gelombang diperkirakan berasal dari area dekat Gunung Gamkonora. Peristiwa ini memperkuat dugaan bahwa aktivitas gunung api bawah laut dan darat di kawasan tersebut berperan dalam memicu tsunami.

Pada abad ke-19, frekuensi kejadian tsunami di Laut Maluku meningkat dengan berbagai dampak yang lebih luas. Tahun 1845, wilayah Kema di Minahasa Utara dilanda tsunami yang datang dalam dua gelombang besar. Selain itu, fenomena surutnya air laut terjadi sebanyak tiga kali sebelum kembali naik, yang merupakan salah satu ciri khas tsunami.

Setahun kemudian, pada 1846, wilayah Maluku Utara kembali mengalami tsunami dengan ketinggian sekitar 1,2 meter. Yang menarik, fenomena naik-turun air laut terjadi hingga 16 kali. Peristiwa ini menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah tsunami karena menunjukkan dinamika gelombang yang tidak biasa.

Pada tahun 1856, tsunami melanda wilayah Laut Maluku hingga Halmahera. Gelombang besar tersebut menerjang pesisir Halmahera dan pulau-pulau di sekitarnya. Dampaknya tidak hanya merusak kawasan pesisir, tetapi juga memengaruhi aktivitas masyarakat yang bergantung pada laut.

Serangkaian tsunami kembali terjadi pada tahun-tahun berikutnya. Pada 1857, tsunami di kawasan Kema-Manado dilaporkan menghanyutkan gubuk-gubuk di pantai serta pepohonan. Hal ini menunjukkan kekuatan gelombang yang cukup besar hingga mampu merusak struktur sederhana dan vegetasi di pesisir.

Setahun setelahnya, pada 1858, tsunami kembali terjadi di Maluku Utara. Dampak yang ditimbulkan berupa kerusakan pada permukiman pesisir. Peristiwa ini menambah daftar panjang bencana yang harus dihadapi masyarakat di wilayah tersebut.

Pada 1859, tsunami kembali menerjang wilayah Kema di Minahasa. Gelombang laut bahkan mencapai atap bangunan gudang batu bara yang lokasinya berada cukup jauh dari garis pantai. Hal ini menunjukkan bahwa energi gelombang tsunami saat itu sangat besar hingga mampu menjangkau wilayah yang relatif aman.

Memasuki akhir abad ke-19, tepatnya pada tahun 1871, tsunami melanda Kepulauan Sangihe-Talaud. Beberapa kampung pesisir mengalami kerusakan rumah akibat terjangan gelombang. Wilayah ini memang dikenal berada di jalur cincin api Pasifik yang aktif secara geologis.

Pada tahun 1889, tsunami kembali terjadi di kawasan Manado dan Kema. Di Manado, tinggi gelombang tercatat mencapai sekitar 2 meter, sementara di Kema mencapai 4 meter. Perbedaan ketinggian ini menunjukkan bahwa dampak tsunami dapat bervariasi tergantung pada kondisi geografis dan topografi wilayah pesisir.

Setelah rentang waktu yang cukup panjang tanpa catatan besar, tsunami kembali tercatat pada era modern. Pada tahun 2014, terjadi tsunami kecil di wilayah Halmahera. Gelombang yang terekam di Jailolo mencapai 9 cm, sementara di Manado sekitar 3 cm. Meski tergolong kecil, peristiwa ini tetap menjadi pengingat akan potensi bahaya yang ada.

Kemudian pada tahun 2019, tsunami lokal kembali terjadi di Halmahera. Skala kejadian ini relatif kecil dan tidak menimbulkan dampak besar, namun tetap menjadi bagian dari aktivitas seismik yang perlu diwaspadai.

Menurut para ahli kebencanaan, kawasan Laut Maluku merupakan salah satu wilayah dengan kompleksitas tektonik tinggi. Hal ini disebabkan oleh pertemuan beberapa lempeng besar, termasuk Lempeng Pasifik, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Filipina. Kombinasi ini membuat wilayah tersebut rentan terhadap gempa bumi yang berpotensi memicu tsunami.

Selain faktor tektonik, aktivitas gunung api juga turut berperan dalam memicu tsunami di kawasan ini. Gunung Gamalama dan Gamkonora, misalnya, merupakan gunung api aktif yang memiliki potensi memicu gelombang laut jika terjadi erupsi besar atau longsoran bawah laut.

Dengan melihat catatan sejarah tersebut, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan. Edukasi mengenai mitigasi bencana, pembangunan sistem peringatan dini, serta penataan kawasan pesisir menjadi langkah yang perlu diperkuat.

Kesadaran masyarakat juga menjadi kunci dalam mengurangi risiko bencana. Pengalaman dari masa lalu menunjukkan bahwa tsunami dapat terjadi secara tiba-tiba dan berdampak luas, sehingga pemahaman tentang tanda-tanda awal seperti surutnya air laut secara drastis sangat penting.

Sejarah panjang tsunami di Laut Maluku menjadi pengingat bahwa wilayah ini memiliki potensi bencana yang tidak bisa diabaikan. Dengan mempelajari kejadian masa lalu, diharapkan langkah mitigasi ke depan dapat lebih efektif dalam melindungi masyarakat dan mengurangi dampak yang ditimbulkan. ***