Pasangan ganda putra Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri memastikan langkah ke partai puncak Singapore Open 2026 usai menundukkan wakil China, Liang Wei Keng/Wang Chang, pada semifinal yang berlangsung Sabtu. Di sisi lain, langkah tunggal putra muda Indonesia Alwi Farhan harus terhenti setelah kalah dari wakil Prancis, Alex Lanier.

Fajar/Fikri yang menjadi unggulan ketiga tampil solid saat menghadapi pasangan unggulan kelima asal China tersebut. Mereka meraih kemenangan dua gim langsung dengan skor 23-21, 21-4 dalam pertandingan yang berlangsung sengit pada gim pertama sebelum akhirnya didominasi wakil Indonesia di gim kedua.

Sejak awal pertandingan, kedua pasangan menunjukkan kualitas permainan terbaiknya. Kejar-mengejar angka terjadi sepanjang gim pertama dengan duel cepat di area depan net menjadi salah satu kunci pertandingan. Fajar dan Fikri beberapa kali harus bekerja keras menghadapi permainan agresif Liang Wei Keng dan Wang Chang yang dikenal memiliki kombinasi serangan dan pertahanan yang seimbang.

Fajar mengaku bersyukur bisa menyelesaikan pertandingan dengan baik dan meraih kemenangan penting untuk mengamankan tiket final.

“Perasaannya pasti senang, bersyukur, alhamdulillah bisa menyelesaikan pertandingan dengan lancar, dengan sehat, dan juga kemenangan. Tadi khususnya di gim pertama, tidak mudah banyak kejar-mengejar poin. Mereka juga sama, bermain di depan net, mengadu di depan kuncinya. Jadi memang sedikit krusial di gim pertama ketika kami bisa memenangkan adu setting,” ujar Fajar melansir laman PBSI.

Menurut Fajar, lawan yang mereka hadapi memiliki kualitas yang sangat lengkap. Wang Chang dinilai berperan sebagai pengatur permainan, sementara Liang Wei Keng menjadi eksekutor utama dalam serangan.

“Mereka mempunyai tipe permainan yang komplit dengan Wang Chang sebagai playmaker dan Liang Wei Keng sebagai eksekutor di belakang. Mereka sangat luar biasa tapi di hari ini mereka terlihat kesulitan karena kondisi bola yang cukup kencang dan kondisi lapangan sangat berangin. Kami bisa lebih memanfaatkan situasi,” katanya.

Setelah merebut gim pertama yang berlangsung ketat, Fajar/Fikri tampil semakin percaya diri pada gim kedua. Mereka langsung mengambil kendali permainan dan berhasil menekan lawan sejak awal hingga menciptakan jarak poin yang sangat jauh.

Fikri mengungkapkan kondisi lapangan yang menguntungkan karena faktor angin turut membantu mereka mengembangkan permainan. Meski sempat unggul sangat jauh, pasangan Indonesia tetap menjaga fokus agar tidak kehilangan momentum.

“Di gim kedua kami lebih diuntungkan dengan kondisi yang menang angin. Jadi kami lebih fokus lagi di depannya, sampai bisa menekan terus. Dan walaupun sudah 11-0, kami tidak mau lengah, tidak mau jadi terkejar, tidak mau momentum balik untuk mereka. Jadi kami tekan terus, alhamdulillah bisa berjalan lancar,” kata Fikri.

Kemenangan ini membawa Fajar/Fikri melaju ke final Singapore Open 2026. Pada laga perebutan gelar, mereka akan menghadapi pasangan India, Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty yang sebelumnya juga tampil impresif di semifinal.

Fikri mengatakan dirinya dan Fajar sudah memantau langsung permainan calon lawan mereka. Meski mengakui kualitas pasangan India tersebut, keduanya tetap optimistis menghadapi laga puncak.

“Di final tidak akan mudah lawan Satwik/Chirag. Tadi pun kami berdua datang lebih cepat ke arena untuk melihat permainan mereka melawan Kim/Seo dan sangat luar biasa. Tapi itu tidak membuat kami gentar, kami akan coba yang terbaik, semoga hasilnya maksimal,” ujarnya.

Sementara itu, hasil berbeda diraih Alwi Farhan di sektor tunggal putra. Pebulu tangkis muda Indonesia tersebut harus mengakui keunggulan Alex Lanier dalam pertandingan semifinal dengan skor 14-21, 11-21.

Sepanjang pertandingan, Alwi terlihat kesulitan mengembangkan permainan akibat tekanan yang terus diberikan lawannya. Alex Lanier tampil agresif dengan serangan-serangan cepat dan bertenaga yang membuat wakil Indonesia sulit keluar dari tekanan.

Alwi mengakui bahwa kekuatan utama Lanier terletak pada power pukulan yang sangat eksplosif. Kondisi tersebut membuatnya kesulitan menjalankan strategi yang telah dipersiapkan sebelum pertandingan.

“Pastinya tetap bersyukur bisa melaju sejauh ini tapi sangat disayangkan hari ini saya rasanya bermain terus tertekan. Memang Alex mempunyai power yang sangat kuat, itu kelebihan dari dia yang kurang bisa saya antisipasi. Jadi saya akan kembali lebih kuat secepatnya dan mencoba fokus persiapan untuk Indonesia Open,” kata Alwi.

Menurut Alwi, tidak ada faktor lapangan yang memengaruhi hasil pertandingan. Ia menilai tekanan yang diberikan Alex menjadi faktor utama yang membuatnya tidak bisa bermain lepas.

“Tidak ada perbedaan kondisi lapangan hanya Alex aja yang mencoba terus menekan saya jadi memang saya terus merasakan pressure yang berlebihan karena powernya sangat eksplosif dan sangat kencang, membuat saya susah keluar dari tekanan. Tadi juga beberapa momen bola tanggung yang seharusnya saya bisa poin, dia berhasil membalikkan, itu berpengaruh ke permainan pada akhirnya,” ungkapnya.

Meski gagal melangkah ke final, Alwi menilai pencapaiannya di Singapore Open menjadi pengalaman berharga. Ia bertekad melakukan evaluasi menyeluruh untuk meningkatkan performa dan mempersiapkan diri menghadapi turnamen berikutnya, termasuk Indonesia Open.

“Semua sebenarnya sudah dipersiapkan tapi memang jalannya nggak sesuai apa yang saya mau tapi ya pasti saya harus belajar dan evaluasi lebih mendalam apa sih yang menjadi kelebihan yang kurang bisa saya antisipasi. Dan itu menjadi modal utama ketika nanti bertemu lagi,” tutur Alwi.

Hasil semifinal ini membuat Indonesia masih memiliki peluang meraih gelar melalui Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri di sektor ganda putra. Sementara Alwi Farhan menutup kiprahnya dengan pencapaian semifinal yang dapat menjadi bekal berharga untuk menghadapi persaingan di level elite dunia pada turnamen-turnamen mendatang. (Red)