Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi di wilayah Mindanao, Filipina, memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat di daerah yang berpotensi terdampak untuk tetap tenang, waspada, dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa pusat gempa berada di laut dengan kedalaman 47 kilometer. Lokasi episenter tercatat berada sekitar 244 kilometer arah barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara. Berdasarkan hasil analisis BMKG, gempa tersebut tergolong gempa dangkal yang dipicu aktivitas subduksi lempeng di kawasan Laut Filipina.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault,” ujarnya.

Guncangan gempa dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia dengan tingkat intensitas yang berbeda-beda. Di Morotai, Halmahera Utara, getaran tercatat mencapai skala IV MMI. Pada intensitas tersebut, gempa dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah dan sebagian orang di luar rumah. Beberapa warga juga melaporkan jendela dan pintu berderit serta dinding bangunan berbunyi akibat getaran.

Sementara itu, di Kabupaten Gorontalo Utara, intensitas gempa berada pada kisaran III hingga IV MMI. Getaran juga dirasakan di berbagai daerah lain seperti Ternate, Halmahera Barat, Gorontalo, Halmahera Selatan, Halmahera Timur, Parigi Moutong, Manado, Minahasa, Palu, Bitung, Bolaang Mongondow Timur, dan Halmahera Tengah dengan skala III MMI. Pada tingkat tersebut, getaran dirasakan nyata di dalam rumah dan terasa seperti ada truk besar yang sedang melintas.

Hingga laporan pertama disampaikan BMKG, belum terdapat laporan kerusakan maupun korban yang diakibatkan oleh gempa bumi tersebut. Meski demikian, BMKG terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan situasi di lapangan.

Hasil pemodelan tsunami yang dilakukan BMKG menunjukkan adanya potensi tsunami di sejumlah wilayah Indonesia. Status Siaga diberlakukan untuk beberapa daerah, antara lain Minahasa, Bolaang Mongondow, Kota Manado, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, Buol, Kepulauan Sangihe, Gorontalo Utara, Kepulauan Talaud, Kepulauan Sitaro, Tolitoli, Kota Palu, Donggala, Kota Ternate, dan Kota Bitung.

Selain itu, BMKG juga menetapkan status Waspada untuk sejumlah daerah lainnya, termasuk Kota Tidore Kepulauan, Bulungan, Nunukan, Halmahera, Kota Tarakan, Halmahera Utara, Kutai Timur, Kota Bontang, Berau, dan beberapa wilayah pesisir lainnya yang berpotensi terdampak.

BMKG mengeluarkan sejumlah rekomendasi kepada masyarakat di wilayah yang masuk kategori Siaga. Warga diminta segera menjauhi kawasan pantai dan bergerak menuju lokasi yang lebih tinggi serta aman dari potensi terjangan gelombang tsunami. Sementara itu, masyarakat di wilayah dengan status Waspada diminta tidak melakukan aktivitas di sepanjang garis pantai maupun di sekitar muara sungai hingga situasi dinyatakan aman.

Deputi Bidang Geofisika BMKG menambahkan, bahwa tsunami telah tercatat di tiga lokasi pengamatan. Berdasarkan data sementara, tinggi muka air yang terpantau berkisar antara 9 hingga 18 sentimeter.

“Kami meminta seluruh masyarakat untuk terus mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG karena pemantauan masih terus dilakukan,” ujarnya.

BMKG juga mencatat adanya aktivitas gempa susulan setelah gempa utama terjadi. Hingga pukul 07.11 WIB, terdeteksi dua gempa susulan dengan magnitudo 6,7 dan 5,9. Dalam perkembangan berikutnya, jumlah gempa susulan yang berhasil dimonitor meningkat menjadi lima kali dengan magnitudo yang lebih kecil dibandingkan gempa utama.

Menurut penjelasan BMKG, sumber gempa berasal dari aktivitas subduksi lempeng Laut Filipina. Berdasarkan kajian yang dilakukan bersama berbagai lembaga terkait, wilayah tersebut merupakan zona subduksi aktif yang memiliki kemampuan menghasilkan gempa besar dan berpotensi memicu tsunami.

BMKG juga menjelaskan bahwa sistem peringatan dini tsunami berjalan sesuai prosedur operasional standar. Peringatan dini pertama berhasil diterbitkan kurang dari tiga menit setelah gempa terjadi. Selanjutnya, peringatan dini kedua dirilis kurang dari delapan menit setelah kejadian.

“Peringatan dini pertama kami keluarkan di bawah tiga menit dan peringatan dini kedua diterbitkan kurang dari delapan menit setelah gempa,” kata perwakilan BMKG.

Pihak BMKG menegaskan bahwa pemantauan terhadap gelombang tsunami masih terus dilakukan melalui berbagai instrumen pengamatan. Status peringatan akan diperbarui secara berkala sesuai perkembangan data yang diterima dari lapangan dan stasiun pengamatan tsunami.

Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi. BMKG meminta warga hanya mengakses informasi resmi melalui kanal komunikasi yang telah diverifikasi, seperti situs resmi BMKG, InaTEWS BMKG, akun media sosial resmi BMKG, kanal Telegram BMKG, serta aplikasi mobile WRS-BMKG dan Info BMKG.

BMKG memastikan akan terus menyampaikan perkembangan terbaru kepada masyarakat hingga kondisi dinyatakan aman. Warga yang berada di wilayah pesisir diminta tetap waspada dan mengikuti arahan pemerintah daerah serta petugas kebencanaan setempat guna menghindari risiko yang dapat ditimbulkan oleh gelombang tsunami. ***