Erupsi menerus Gunungapi Anak Krakatau kembali terjadi di Selat Sunda, Sabtu malam, 5 September 2026. Aktivitas berupa semburan merah menyerupai lava fountain dan suara gemuruh kembali mengingatkan pada sejarah panjang Krakatau yang pernah memicu tsunami besar pada 1883 dan 2018.
Anak Krakatau saat ini berstatus Level III (Siaga). Pada 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, gunungapi tersebut mengalami erupsi menerus yang masih berlangsung hingga pukul 04.40 WIB pada 6 September 2026.
Dari Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, tinggi kolom erupsi tidak teramati. Namun, semburan berwarna merah menyala terlihat jelas secara menerus dan menyerupai lava fountain atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava.
Aktivitas kali ini memiliki latar sejarah yang membuat Anak Krakatau terus mendapat perhatian. Pada 1883, erupsi besar Krakatau menghasilkan tsunami dan menjadi salah satu catatan bencana vulkanik paling dikenal di kawasan Selat Sunda.
Sejarah kembali tercatat pada 22 Desember 2018. Aktivitas vulkanik disertai longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau memicu tsunami yang menerjang kawasan pesisir Banten dan Lampung.
Peristiwa tersebut membuat setiap peningkatan aktivitas Anak Krakatau tidak hanya dipandang sebagai erupsi biasa. Perubahan tubuh gunungapi dan potensi longsoran menjadi salah satu aspek yang terus dipantau untuk mengantisipasi risiko di kawasan Selat Sunda.
Namun, kondisi Anak Krakatau saat ini tidak menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, tubuh gunungapi yang terbentuk kembali setelah erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil.
Meski demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi Anak Krakatau tetap dipantau secara intensif. Ancaman bahaya yang dihadapi saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar.
Sejak 2 Juli 2026, aktivitas Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga). Sebelumnya, seri erupsi tipe Strombolian menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik hingga kembali memasuki fase erupsi menerus pada 5 September.
Masyarakat di sekitar Anak Krakatau serta pengunjung, wisatawan, dan pendaki dilarang memasuki wilayah radius 3 kilometer dari pusat aktivitas. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap awan panas, lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat.
Sementara itu, masyarakat di wilayah pantai Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan menjalankan aktivitas seperti biasa dengan mengikuti arahan BPBD setempat. Pemantauan aktivitas Anak Krakatau terus dilakukan untuk melihat perkembangan erupsi maupun perubahan morfologi gunungapi tersebut. ***

