Skrol untuk membaca pos

Erupsi Anak Krakatau Makin Terasa, Abu dan Dentuman Menjangkau Lintas Wilayah

Muh. Rifai
Aktivitas erupsi Gunungapi Anak Krakatau terlihat dengan semburan merah menyerupai lava fountain di Selat Sunda, 5–6 September 2026. Foto: Arsip Geologi ESDM
A-AA+A++

Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau tidak hanya terlihat dari aktivitas di kawah, tetapi mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Banten, Lampung hingga Bandung. Abu vulkanik menyebar ke daratan, sementara suara gemuruh dan getaran terdengar hingga ratusan kilometer dari sumber erupsi.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, masih berlangsung sejak Jumat (4/9) sekitar pukul 23.07 WIB. Erupsi disertai pendaran merah, lava fountain serta suara gemuruh atau dentuman yang terdengar dari sejumlah wilayah.

Dampaknya mulai dirasakan di Kabupaten Serang. Pusdalops BPBD Kabupaten Serang melaporkan abu vulkanik pada Sabtu (5/9) pukul 23.00 WIB telah berdampak pada tujuh kecamatan, yakni Anyer, Cinangka, Ciomas, Mancak, Pabuaran, Baros dan Padarincang.

Kawasan pesisir Anyer dan Cinangka menjadi salah satu wilayah yang terdampak. Sementara di Lampung Selatan, pemantauan dilakukan di Kecamatan Punduh Pedada dan Rajabasa. Di Kabupaten Tanggamus, sejumlah wilayah di Kecamatan Pematang Sawa, Cukuh Balak, Semaka dan Kota Agung juga menjadi perhatian.

Sebaran abu bahkan terpantau berada pada ketinggian sekitar FL480 atau 14,6 kilometer di atas permukaan laut berdasarkan pemantauan Himawari dan VAAC Darwin. Abu bergerak dominan ke arah barat hingga barat daya, tetapi arahnya dapat berubah mengikuti kondisi angin dan perkembangan erupsi.

Fenomena yang dirasakan warga bukan hanya abu. Suara gemuruh atau getaran dilaporkan terdengar maupun dirasakan di wilayah pesisir Lampung, Banten hingga Bandung. Di Kabupaten Serang, laporan tersebut berasal dari Carita, Labuan, Panimbang dan Jiput.

PVMBG menduga suara gemuruh dan getaran tersebut berkaitan dengan pelepasan energi akustik dari aktivitas erupsi menerus Gunung Anak Krakatau. Energi tersebut dapat merambat hingga ratusan kilometer akibat kondisi atmosfer, termasuk pembiasan suara serta pengaruh suhu dan arah angin di lapisan atmosfer bagian atas.

Di tengah meluasnya dampak, kondisi masyarakat hingga pemutakhiran terakhir masih relatif terkendali. Belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan bangunan akibat erupsi, sedangkan kerugian materiil masih dalam pendataan.

Kesiapsiagaan juga diperkuat di sejumlah daerah. BPBD dan instansi terkait melakukan pemantauan sebaran abu, patroli wilayah pesisir, koordinasi lintas instansi serta dukungan kesehatan. Di Lampung Selatan, sekitar 3.000 masker telah didistribusikan kepada masyarakat di sejumlah desa di Kecamatan Rajabasa.

Untuk wilayah perairan, kondisi transportasi laut masih dilaporkan relatif aman dan jalur penyeberangan Merak–Bakauheni belum mengalami gangguan. Basarnas Lampung juga menyiagakan personel di tiga pos SAR serta satu unit Rigid Inflatable Boat di Bakauheni.

Masyarakat diminta menggunakan masker dan pelindung mata saat berada di luar ruangan, terutama ketika terjadi hujan abu. Warga juga diminta menutup sumber air dan makanan serta mengurangi aktivitas di luar rumah jika konsentrasi abu meningkat.

PVMBG tetap merekomendasikan masyarakat, nelayan, wisatawan dan pengguna kapal tradisional tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Masyarakat juga diminta tetap tenang dan mengacu pada informasi resmi BNPB, PVMBG/Badan Geologi, MAGMA Indonesia dan BPBD setempat. (Red)