Tekanan juga datang dari penguatan Dolar AS. Indeks Dolar AS atau DXY, yang mengukur nilai Greenback terhadap enam mata uang utama, naik lebih dari 0,60% dan berada di sekitar 99,72.
Penguatan Dolar AS terjadi bersamaan dengan kenaikan imbal hasil Treasury Amerika Serikat. Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun melonjak sekitar 5,5 basis poin menjadi 4,728%.
Kenaikan imbal hasil tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar kembali meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat dari Federal Reserve. Data Prime Market menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada September berada di sekitar 43%, meningkat dari 34% pada hari sebelumnya.
Selain pernyataan dari Warsh, sejumlah data ekonomi Amerika Serikat turut menjadi perhatian pasar. Revisi tahunan Nonfarm Payrolls tercatat sebesar minus 79 ribu, lebih rendah dibandingkan prakiraan minus 183 ribu dan membaik dari revisi sebelumnya yang mencapai minus 911 ribu.
Data tersebut memberikan gambaran mengenai perubahan dalam estimasi pertumbuhan lapangan kerja Amerika Serikat. Sementara itu, Consumer Sentiment Universitas Michigan pada Agustus berada di angka 51,7, sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan 51, tetapi masih memburuk dibandingkan angka pada Juli.
Ekspektasi inflasi rumah tangga Amerika Serikat juga mengalami perubahan. Konsumen memperkirakan inflasi dalam satu tahun ke depan berada di sekitar 4%, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,2%.
Untuk horizon lima tahun ke depan, ekspektasi inflasi tetap berada di 3,3%, sesuai dengan perkiraan sebelumnya.
Dari sisi teknikal, tekanan terhadap XAU/USD membuat harga emas kembali bergerak di bawah level psikologis US$4.500. Pergerakan tersebut menjadi perhatian karena sebelumnya harga emas sempat mendekati Simple Moving Average (SMA) 200 hari di sekitar US$4.527.
Harga yang sempat bergerak di atas area US$4.550 kemudian berbalik turun setelah komentar hawkish Warsh. Pada penutupan Jumat, XAU/USD berada di sekitar US$4.454, sehingga level US$4.500 kini menjadi area resistance awal yang perlu direbut kembali oleh pembeli.
Indikator Relative Strength Index (RSI) masih berada di atas level 50. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa momentum jangka menengah belum sepenuhnya beralih kepada penjual. Namun, RSI yang belakangan bergerak menurun menunjukkan mulai munculnya tekanan jual dalam jangka pendek.









