Di akhir diskusi, Taufik mengaitkan fenomena tersebut dengan budaya masyarakat Kaili yang menjunjung tinggi etika dan kesantunan dalam menyampaikan kritik.
“Dalam kultur masyarakat Kaili dikenal nilai komunikasi yang santun dan beretika. Ketika komunikasi berubah menjadi serangan personal, itu dipandang kurang etis. Nilai budaya ini bisa menjadi pembelajaran bahwa kritik tetap perlu diarahkan pada kebijakan, bukan pada serangan terhadap individu,” tutupnya.
BACA JUGA:
Melalui Episode 13, Podcast Resonara menghadirkan pembahasan akademis mengenai komunikasi politik, semiotika, peran media sosial, dan bagaimana semua faktor tersebut membentuk persepsi publik terhadap figur Tiyo Ardianto. (Red)



