Tiga Faktor Kuatkan Figur Tiyo Ardianto
Podcast Resonara Episode 13 mengangkat tema “Nilai Semiotika dalam Komunikasi Politik Tiyo Ardianto” dengan menghadirkan akademisi sekaligus pakar komunikasi politik, Taufik Lasenggo, sebagai narasumber. Podcast yang dipandu host Resonara, Athif Muhyiddin Hishad itu berlangsung pada Kamis malam, 25 Juni 2026, pukul 21.00 Wita.
Dalam diskusi tersebut, Taufik Lasenggo membahas mengapa nama mahasiswa Tiyo Ardianto semakin dikenal masyarakat. Menurutnya, ada tiga faktor utama yang membuat figur Tiyo mendapat perhatian luas di ruang publik.
“Dalam perspektif komunikasi politik itu ada tiga hal. Yang pertama, figur kritis mahasiswa itu mengisi credibility gap. Ketika institusi negara dianggap lambat merespons isu publik dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah menurun, maka mahasiswa masuk mengisi ruang itu. Yang kedua, narasi mahasiswa sebagai moral force beresonansi dengan memori kolektif masyarakat Indonesia sejak 1966 hingga 1998. Yang ketiga, algoritma media sosial memperkuat figur. Komunikasi yang emosional, personal, dan visual membuat figur seperti Tiyo cepat naik ke ruang publik,” kata Taufik.
Ia menjelaskan, kemunculan Tiyo Ardianto membuat masyarakat kembali mengingat sejarah panjang gerakan mahasiswa di Indonesia. Menurutnya, sosok mahasiswa yang kritis masih dianggap sebagai bagian dari tradisi perjuangan yang pernah terjadi pada berbagai momentum perubahan politik.
“Kehadiran Tiyo memunculkan memori kolektif. Mahasiswa langsung mengingat ada pergerakan tahun 1998. Semua itu terkonstruksi dalam kepala mereka sehingga gerakan seperti ini langsung dimaknai sebagai bagian dari tradisi perjuangan mahasiswa,” ujarnya.
Taufik mengatakan, sejak dulu mahasiswa dikenal sebagai moral force, agent of change, dan agent of social control. Peran tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara ketika kelompok muda menjadi pihak yang paling cepat merespons perubahan sosial.
Melihat fenomena Tiyo Ardianto dari sisi semiotika, Taufik menggunakan teori Roland Barthes. Ia menjelaskan bahwa secara denotatif, Tiyo adalah mahasiswa yang kritis. Sementara secara konotatif, masyarakat memandangnya sebagai simbol keberanian generasi muda dalam menyampaikan kritik.
“Denotasinya jelas dia adalah mahasiswa yang kritis. Konotasinya, dia dianggap masyarakat yang pemberani, representasi Gen Z yang kritis, bahkan menjadi simbol resistensi terhadap kekuasaan. Kemunculan figur yang begitu berani di era media sosial membuat pesan itu menyebar sangat cepat,” jelasnya.
Ia juga menilai pola gerakan mahasiswa kini mengalami perubahan. Jika sebelumnya gerakan lebih banyak dilakukan melalui organisasi mahasiswa, saat ini media sosial membuat figur personal lebih mudah dikenal dan memengaruhi opini publik.
“Kalau dulu gerakannya terlembaga, kolektif kolegial. Hari ini gerakannya personal yang kemudian difasilitasi media sosial. Ketika Tiyo tampil beberapa menit saja di televisi lalu dipotong menjadi video pendek dan disebarkan, algoritma langsung memperluas jangkauannya ke seluruh Indonesia,” katanya.
Dalam pembahasannya, Taufik menegaskan, simbol politik harus didukung oleh data yang kuat. Menurutnya, simbol tanpa data akan mudah dimaknai berbeda oleh masyarakat.
“Data dan simbol adalah dua hal yang berbeda, tetapi dalam komunikasi politik keduanya harus digabungkan. Kekuatan simbol harus didukung data. Kalau simbol perlawanan tidak dilengkapi data, maka simbol itu bisa dinarasikan secara berbeda oleh pihak lain,” ujarnya.
Taufik juga menilai pandangan masyarakat terhadap Tiyo Ardianto dipengaruhi oleh afiliasi politik masing-masing. Sebagian melihatnya sebagai sosok pemberani yang mewakili aspirasi publik, sementara kelompok lain menganggapnya sebagai figur yang provokatif.
Selain itu, media sosial dinilai ikut mempercepat penyebaran komunikasi yang bersifat konfrontatif. Hal itu terjadi karena algoritma lebih banyak menampilkan konten yang memancing emosi dan mendapat interaksi tinggi dari pengguna.
Meski demikian, ia mengingatkan, konsistensi narasi tetap penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Ia mencontohkan munculnya dugaan penerimaan uang oleh salah seorang pengurus BEM yang dinilai dapat mengalihkan perhatian publik dari isu utama ke persoalan internal gerakan mahasiswa.
Terkait polemik pelaporan terhadap Tiyo Ardianto, Taufik mengatakan, perbedaan pandangan tersebut merupakan bagian dari resepsi politik masyarakat.
“Orang yang melapor tentu berada pada afiliasi politik tertentu. Yang satu melihat itu sebagai kritik, yang lain melihatnya sebagai bentuk polarisasi. Di era media sosial sekarang memang sulit membedakan mana kritik yang konstruktif dan mana yang sudah masuk pada polarisasi,” katanya.
Menurutnya, kritik yang konstruktif harus diarahkan pada kebijakan, bukan menyerang pribadi seseorang.
“Kalau konstruktif, yang dikritisi adalah kebijakan, misalnya program pemerintah atau pemotongan anggaran pendidikan. Tetapi kalau narasinya menyerang individu, maka itu sudah masuk pada polarisasi. Tujuannya bukan lagi memperbaiki kebijakan, tetapi membangun stigma terhadap seseorang,” jelasnya.
Di akhir diskusi, Taufik mengaitkan fenomena tersebut dengan budaya masyarakat Kaili yang menjunjung tinggi etika dan kesantunan dalam menyampaikan kritik.
“Dalam kultur masyarakat Kaili dikenal nilai komunikasi yang santun dan beretika. Ketika komunikasi berubah menjadi serangan personal, itu dipandang kurang etis. Nilai budaya ini bisa menjadi pembelajaran bahwa kritik tetap perlu diarahkan pada kebijakan, bukan pada serangan terhadap individu,” tutupnya.
Melalui Episode 13, Podcast Resonara menghadirkan pembahasan akademis mengenai komunikasi politik, semiotika, peran media sosial, dan bagaimana semua faktor tersebut membentuk persepsi publik terhadap figur Tiyo Ardianto. (Red)


