“Hingga pukul 12.00 WIB, hasil monitoring BMKG telah terjadi 20 aktivitas gempa bumi susulan dengan magnitude terbesar M5,2,” ujar Nelly.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas seismik di wilayah terdampak. BMKG juga secara berkala memperbarui informasi kepada pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat guna memastikan seluruh perkembangan dapat diketahui secara cepat dan akurat.
Menurut Wijayanto, aktivitas gempa susulan merupakan hal yang umum terjadi setelah gempa utama. Namun demikian, ia berharap frekuensi dan kekuatan gempa susulan akan terus menurun seiring berjalannya waktu.
BMKG juga kembali memastikan bahwa gempa yang terjadi di Parigi Moutong tidak memiliki potensi tsunami. Kesimpulan tersebut diperoleh berdasarkan hasil pemodelan data gempa yang dilakukan secara komprehensif oleh tim ahli BMKG.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG terus memantau sejumlah stasiun pengukur pasang surut air laut atau tide gauge yang berada di sekitar wilayah pusat gempa. Pemantauan dilakukan untuk memastikan tidak ada perubahan signifikan pada kondisi perairan yang dapat membahayakan masyarakat pesisir.
Hasil pengamatan menunjukkan kondisi laut di beberapa titik masih berada dalam keadaan normal. Stasiun pemantau di Parigi tidak mencatat adanya kenaikan muka air laut. Kondisi serupa juga terpantau di stasiun pemantau wilayah Poso yang tidak menunjukkan adanya aktivitas perairan yang mencurigakan.
Wijayanto menjelaskan, sensor yang berada di Pelabuhan Pantoloan memang sempat merekam kenaikan muka air laut setinggi 7,5 sentimeter. Namun, menurut BMKG, perubahan tersebut masih dalam batas normal dan tidak menimbulkan ancaman bagi masyarakat.
“Sensor di Pelabuhan Pantoloan memang mencatat sedikit kenaikan muka air laut setinggi 7,5 cm, namun BMKG menegaskan bahwa fluktuasi kecil ini sama sekali tidak berbahaya bagi keselamatan masyarakat,” kata Wijayanto.
Untuk memperkuat kajian dampak gempa di lapangan, BMKG juga mengirimkan tim khusus ke lokasi terdampak. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, menyampaikan bahwa tim tersebut akan melakukan survei lapangan sekaligus meninjau kondisi bangunan dan infrastruktur yang mengalami kerusakan akibat gempa.




