PSG Pertahankan Gelar Liga Champions Setelah Kalahkan Arsenal Lewat Adu Penalti
Paris Saint-Germain (PSG) berhasil mempertahankan gelar Liga Champions UEFA musim 2025/2026 setelah mengalahkan Arsenal melalui adu penalti dalam laga final yang berlangsung di Puskas Arena, Budapest. Kedua tim bermain imbang 1-1 hingga akhir perpanjangan waktu sebelum PSG memastikan kemenangan dari titik putih.
Arsenal memulai pertandingan dengan sempurna. Tim asuhan Mikel Arteta langsung unggul pada menit keenam melalui Kai Havertz. Gol bermula dari keberhasilan Leandro Trossard memotong sapuan pemain PSG. Havertz kemudian berlari bebas ke kotak penalti sebelum melepaskan tembakan keras dari sudut sempit yang gagal dihentikan kiper Matvei Safonov.
Keunggulan cepat tersebut membuat Arsenal semakin percaya diri. Namun, PSG tetap tenang dan perlahan menguasai jalannya pertandingan. Tim asuhan Luis Enrique mendominasi penguasaan bola sepanjang babak pertama, meski kesulitan membongkar pertahanan rapat Arsenal yang dikawal Gabriel Magalhaes dan William Saliba.
Beberapa peluang sempat diciptakan PSG. Ousmane Dembele dan Desire Doue mencoba mengancam lewat tembakan dari luar kotak penalti, tetapi belum menemui sasaran. Di sisi lain, Arsenal hampir menambah keunggulan menjelang turun minum. Namun, Marquinhos melakukan penyelamatan penting dengan memblok tembakan Havertz yang berpeluang menjadi gol kedua The Gunners.
Arsenal yang hanya kebobolan enam gol sepanjang perjalanan mereka menuju final kembali menunjukkan soliditas pertahanan pada babak kedua. Akan tetapi, PSG akhirnya mampu menyamakan kedudukan pada menit ke-65.
Gol berawal dari pelanggaran Cristhian Mosquera terhadap Khvicha Kvaratskhelia di dalam kotak penalti. Wasit langsung menunjuk titik putih dan Dembele yang maju sebagai eksekutor sukses mengecoh David Raya untuk mengubah skor menjadi 1-1.
Setelah gol tersebut, PSG terus menekan pertahanan Arsenal. Peluang emas nyaris membawa tim asal Prancis itu berbalik unggul pada menit ke-77. Kvaratskhelia melakukan penetrasi ke dalam kotak penalti dan melepaskan tembakan keras, namun bola hanya membentur tiang gawang.
Memasuki menit-menit akhir waktu normal, PSG kembali mendapatkan peluang berbahaya. Vitinha hampir mencetak gol kemenangan lewat tendangan melengkung yang mengarah ke sudut atas gawang. Namun, bola hanya mengenai bagian atas jaring. Sementara itu, Goncalo Ramos yang masuk sebagai pemain pengganti juga gagal memaksimalkan peluang yang didapat.
Skor 1-1 bertahan hingga waktu normal berakhir sehingga pertandingan harus dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu. Pada fase ini, PSG tetap mendominasi penguasaan bola, tetapi pertahanan Arsenal kembali tampil disiplin dan sulit ditembus.
Karena tidak ada tambahan gol selama 120 menit pertandingan, juara Liga Champions musim ini akhirnya ditentukan melalui adu penalti. Ini menjadi final Liga Champions pertama yang harus ditentukan lewat adu penalti sejak tahun 2016.
Dalam babak adu penalti, PSG tampil lebih tenang dibandingkan Arsenal. Eberechi Eze gagal menjalankan tugasnya setelah tendangannya melenceng dari sasaran. PSG juga sempat kehilangan peluang ketika eksekusi Nuno Mendes berhasil ditepis David Raya.
Namun, momen penentu datang saat Gabriel maju sebagai penendang Arsenal. Bek asal Brasil itu gagal mencetak gol setelah tendangannya melambung di atas mistar gawang. Kegagalan tersebut memastikan PSG keluar sebagai pemenang sekaligus mempertahankan trofi Liga Champions.
Keberhasilan ini membuat PSG menjadi tim pertama yang mampu mempertahankan gelar Liga Champions sejak Real Madrid melakukannya pada 2018. Meski sempat tertinggal di awal pertandingan, PSG menunjukkan mental juara dengan terus bermain sabar hingga akhirnya keluar sebagai pemenang.
Vitinha terpilih sebagai Pemain Terbaik Pertandingan berkat penampilan impresifnya di lini tengah. Gelandang asal Portugal itu menjadi pengatur permainan PSG dan berperan besar dalam menjaga ritme serangan tim sepanjang laga.
Pengamat UEFA, Alex Clementson, menilai ketenangan menjadi faktor utama keberhasilan PSG. Menurutnya, para pemain tetap berpegang pada filosofi permainan mereka meski sempat tertinggal lebih dulu.
Di sisi lain, reporter Arsenal, Joe Terry, menyebut pertandingan ini sebagai pertarungan dua kekuatan yang seimbang. Serangan PSG dan pertahanan Arsenal sama-sama tampil solid sehingga pertandingan berlangsung ketat hingga babak adu penalti.
Meski gagal meraih gelar, Arsenal tetap pantas mendapat apresiasi atas perjalanan mereka musim ini. Tim asuhan Mikel Arteta menunjukkan semangat juang, disiplin, dan kebersamaan yang membawa mereka melangkah hingga partai final Liga Champions. (Rfi)


