Paris Saint-Germain dan Arsenal akan saling berhadapan di final Liga Champions 2026 di Puskas Arena, Budapest, Sabtu 30 Mei. Laga ini bukan hanya soal perebutan trofi terbesar di Eropa, tetapi juga pertarungan dua proyek sepak bola yang berkembang dengan cara berbeda.
PSG datang sebagai juara bertahan dengan ambisi mempertahankan gelar untuk kedua kalinya secara beruntun, sesuatu yang terakhir dilakukan Real Madrid pada musim 2016/17 dan 2017/18. Sementara Arsenal kembali ke final Liga Champions untuk pertama kalinya sejak 2006 dengan status sebagai satu-satunya tim yang belum terkalahkan sepanjang kompetisi musim ini.
Pertandingan ini juga menjadi ulangan semifinal musim lalu. Ketika itu, PSG asuhan Luis Enrique menyingkirkan Arsenal dengan agregat 3-1 sebelum menghancurkan Inter Milan 5-0 di final untuk meraih trofi Liga Champions pertama mereka.
Meski begitu, sejarah pertemuan kedua tim sebenarnya masih berpihak kepada Arsenal. Dari lima pertemuan di Liga Champions, PSG baru sekali menang. Arsenal menang pada fase liga musim ini dan dua pertemuan lainnya berakhir imbang.
PSG memasuki final dengan identitas permainan yang sangat jelas. Mereka menjadi tim paling produktif di Liga Champions musim ini dengan 44 gol, hanya terpaut satu gol dari rekor Barcelona pada musim 1999/2000.
Performa luar biasa PSG tidak lepas dari kontribusi Khvicha Kvaratskhelia. Winger asal Georgia itu tampil menjadi motor serangan dengan catatan sepuluh gol dan enam assist sepanjang musim. Tujuh kontribusi golnya lahir di fase gugur, saat PSG mulai menunjukkan performa terbaik mereka.
Selain Kvaratskhelia, lini depan PSG juga diperkuat Ousmane Dembele dan Desire Doue yang membuat serangan mereka sangat sulit diprediksi. Luis Enrique berhasil membangun tim yang lebih seimbang dibanding PSG era sebelumnya. Mereka tetap agresif menyerang, tetapi kini lebih disiplin saat bertahan.
Perjalanan PSG menuju final juga tidak mudah. Mereka melewati Atalanta, Bayer Leverkusen, Barcelona, Tottenham Hotspur, Chelsea, Liverpool, hingga Bayern Munchen. Kemenangan atas Bayern di semifinal menjadi bukti bahwa PSG kini tidak hanya mengandalkan kualitas menyerang, tetapi juga memiliki mental bertanding yang lebih matang.







