Untuk mendukung konektivitas perdagangan internasional, pemerintah daerah juga merencanakan pembukaan penerbangan langsung Guangzhou–Palu melalui Bandara Internasional Mutiara SIS Al-Jufri pada 10 Juli 2026 mendatang. Jalur penerbangan itu diharapkan mampu mempercepat distribusi komoditas ekspor sekaligus memangkas biaya logistik.
Sementara itu, Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, menegaskan bahwa Barantin kini tidak lagi hanya menjalankan fungsi pengawasan lalu lintas komoditas di pintu masuk dan keluar wilayah. Menurutnya, lembaga tersebut kini ikut mengambil peran dalam mendukung percepatan ekonomi nasional melalui penguatan ekspor.
“Barantin ingin mendorong percepatan ekspor-impor perdagangan melalui penerapan standar dan protokol karantina yang harus dipenuhi untuk menembus pasar internasional,” katanya.
Karding menjelaskan, standar karantina menjadi faktor penting agar produk Indonesia bisa diterima di pasar global. Karena itu, kualitas komoditas harus dijaga secara konsisten, mulai dari proses budidaya, pengolahan hingga pengiriman.
Ia menilai durian dan kelapa asal Sulawesi Tengah memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar internasional. Namun, peluang tersebut hanya bisa dimanfaatkan apabila seluruh prosedur karantina dan standar ekspor dipenuhi dengan baik.
“Kualitas durian dan kelapa Sulawesi Tengah menjadi daya tarik tersendiri bagi pasar Tiongkok. Jika standar karantina dijaga dengan baik, komoditas kita tidak hanya mampu menembus pasar Asia, tetapi juga Eropa,” tambahnya.
Selain itu, Karding juga mendorong pembangunan fasilitas instalasi dan laboratorium karantina di Sulawesi Tengah. Keberadaan fasilitas tersebut dinilai penting untuk memastikan kualitas produk ekspor tetap terjaga dan sesuai dengan standar internasional.
Langkah itu sekaligus mendukung upaya hilirisasi komoditas unggulan daerah agar produk yang diekspor tidak hanya berbentuk bahan mentah, tetapi juga memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
Data Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menunjukkan tren ekspor durian mengalami peningkatan cukup signifikan. Sejak Januari hingga 12 April 2026, Sulawesi Tengah tercatat telah mengekspor 151 kontainer durian beku ke Tiongkok dengan total volume mencapai 4.077 ton atau senilai Rp377,5 miliar.
Capaian tersebut menjadi sinyal bahwa komoditas pertanian Sulawesi Tengah mulai mendapat tempat di pasar internasional. Pemerintah daerah pun berharap peluang itu bisa terus berkembang dan berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya petani dan pelaku usaha di sektor perkebunan.




