Skrol untuk membaca pos

Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering, BMKG Tingkatkan Mitigasi

Muh. Rifai
Kemarau. Ilustrasi AI
A-AA+A++

Ardhasena menilai perubahan pola hujan akibat dinamika iklim global membuat langkah mitigasi harus dilakukan lebih cepat, terutama di wilayah rawan kekeringan dan karhutla.

Selain memperkuat prediksi iklim, BMKG juga meningkatkan layanan informasi cuaca hingga level desa dan kelurahan untuk mendukung pengambilan keputusan pemerintah daerah maupun masyarakat.

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan sistem prediksi cuaca kini semakin detail melalui dukungan radar cuaca dan teknologi nowcasting guna meningkatkan akurasi prakiraan cuaca ekstrem dan potensi hujan.

“Informasi mengenai prediksi, sekarang ini sudah sampai level desa. Jadi kalau lihat di aplikasi itu kan sudah bisa per kelurahan atau per desa, kita berusaha agar forecasting itu akurat,” kata Andri.

Ia menambahkan penyampaian informasi cuaca dan iklim harus mudah dipahami masyarakat agar langkah mitigasi dapat dilakukan lebih cepat sebelum dampak musim kemarau meluas.

“Informasi kepada masyarakat harus terus tersampaikan agar upaya mitigasi dapat dilakukan lebih dini dan efektif,” ujarnya.

BMKG juga menyiapkan strategi mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu penanganan kekeringan maupun pengendalian karhutla di wilayah tertentu.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menjelaskan pelaksanaan OMC harus direncanakan berdasarkan kondisi cuaca dan potensi pertumbuhan awan beberapa hari sebelumnya agar hasilnya lebih efektif.

Menurutnya, koordinasi intensif antara bidang meteorologi, pemerintah daerah, dan instansi terkait menjadi faktor utama dalam menentukan waktu dan wilayah pelaksanaan operasi modifikasi cuaca.

“Pelaksanaan OMC dilakukan sesuai kebutuhan penanganan di lapangan dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi cuaca di wilayah sasaran,” jelasnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Infrastruktur Kementerian PPN/Bappenas Abdul Malik Sadat Idris menilai kesiapan menghadapi musim kemarau tidak hanya bergantung pada prediksi cuaca, tetapi juga kesiapan sistem mitigasi di lapangan.

Ia menekankan perlunya penguatan tata kelola kebencanaan yang terintegrasi agar respons terhadap ancaman kekeringan dan bencana hidrometeorologi dapat dilakukan lebih cepat.

Selain sektor kebencanaan, BMKG juga memberi perhatian terhadap dampak musim kemarau pada sektor pertanian, transportasi, dan pengelolaan sumber daya air. Informasi peringatan dini diharapkan dapat diterjemahkan menjadi langkah konkret di lapangan untuk mengurangi risiko kerugian.