Kabut asap karhutla bukan hanya mengganggu jarak pandang.
Paparan asap juga dapat memengaruhi kesehatan, terutama sistem pernapasan.
Asap kebakaran membawa partikel dan polutan yang dapat masuk ke saluran pernapasan.
Dalam kondisi kualitas udara buruk, masyarakat dapat mengalami keluhan seperti batuk, iritasi tenggorokan dan sesak.
Risiko dapat lebih besar bagi orang yang sudah memiliki gangguan pernapasan.
Anak-anak dan lansia juga termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian.
Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 113 ribu kasus ISPA terkait karhutla hingga 9 September 2026.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa dampak kesehatan karhutla perlu diperhatikan secara serius.
Masyarakat di wilayah terdampak dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk.
Masker dapat digunakan ketika harus keluar rumah.
Namun, masyarakat juga perlu memperhatikan kualitas masker dan cara penggunaannya.
Orang tua sebaiknya memperhatikan kondisi anak.
Jika anak mengalami batuk atau gangguan pernapasan, jangan abaikan perubahan kondisi.
Penanganan medis diperlukan jika gejala menjadi berat.
Selain perlindungan individu, penanganan sumber masalah tetap penting.
Karhutla harus dikendalikan agar paparan asap dapat berkurang.
Masyarakat juga perlu mengikuti informasi dari pemerintah dan layanan kesehatan.
Dengan begitu, masyarakat dapat mengambil langkah yang lebih tepat ketika kualitas udara menurun. (Red)



