Setahun setelahnya, pada 1858, tsunami kembali terjadi di Maluku Utara. Dampak yang ditimbulkan berupa kerusakan pada permukiman pesisir. Peristiwa ini menambah daftar panjang bencana yang harus dihadapi masyarakat di wilayah tersebut.
Pada 1859, tsunami kembali menerjang wilayah Kema di Minahasa. Gelombang laut bahkan mencapai atap bangunan gudang batu bara yang lokasinya berada cukup jauh dari garis pantai. Hal ini menunjukkan bahwa energi gelombang tsunami saat itu sangat besar hingga mampu menjangkau wilayah yang relatif aman.
Memasuki akhir abad ke-19, tepatnya pada tahun 1871, tsunami melanda Kepulauan Sangihe-Talaud. Beberapa kampung pesisir mengalami kerusakan rumah akibat terjangan gelombang. Wilayah ini memang dikenal berada di jalur cincin api Pasifik yang aktif secara geologis.
Pada tahun 1889, tsunami kembali terjadi di kawasan Manado dan Kema. Di Manado, tinggi gelombang tercatat mencapai sekitar 2 meter, sementara di Kema mencapai 4 meter. Perbedaan ketinggian ini menunjukkan bahwa dampak tsunami dapat bervariasi tergantung pada kondisi geografis dan topografi wilayah pesisir.
Setelah rentang waktu yang cukup panjang tanpa catatan besar, tsunami kembali tercatat pada era modern. Pada tahun 2014, terjadi tsunami kecil di wilayah Halmahera. Gelombang yang terekam di Jailolo mencapai 9 cm, sementara di Manado sekitar 3 cm. Meski tergolong kecil, peristiwa ini tetap menjadi pengingat akan potensi bahaya yang ada.
Kemudian pada tahun 2019, tsunami lokal kembali terjadi di Halmahera. Skala kejadian ini relatif kecil dan tidak menimbulkan dampak besar, namun tetap menjadi bagian dari aktivitas seismik yang perlu diwaspadai.
Menurut para ahli kebencanaan, kawasan Laut Maluku merupakan salah satu wilayah dengan kompleksitas tektonik tinggi. Hal ini disebabkan oleh pertemuan beberapa lempeng besar, termasuk Lempeng Pasifik, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Filipina. Kombinasi ini membuat wilayah tersebut rentan terhadap gempa bumi yang berpotensi memicu tsunami.
Selain faktor tektonik, aktivitas gunung api juga turut berperan dalam memicu tsunami di kawasan ini. Gunung Gamalama dan Gamkonora, misalnya, merupakan gunung api aktif yang memiliki potensi memicu gelombang laut jika terjadi erupsi besar atau longsoran bawah laut.







