Skrol untuk membaca pos

Ketika Mesin Jahit Terhenti: Tangis dan Pelukan Warnai Perpisahan Ribuan Karyawan Sritex

Muh. Rifai
Direktur Utama Sritex, Iwan Kurniawan Lukminto, dikerumuni ribuan karyawan Sritex. Foto: Tangkapan Layar
A-AA+A++

Keputusan itu berdampak besar bagi para karyawan. Sebanyak 10.965 pekerja harus menghadapi kenyataan pahit: kehilangan pekerjaan yang selama ini menjadi sandaran hidup mereka.

Di Antara Isak Tangis, Ada Ketidakpastian

Perpisahan ini tak hanya dipenuhi kesedihan, tetapi juga kegelisahan. Beberapa karyawan menyampaikan keluhan mereka terkait gaji yang belum terbayarkan. Mereka berharap manajemen dapat segera menyelesaikan kewajiban tersebut sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi yang telah mereka berikan selama ini.

Salah seorang karyawan yang telah bekerja selama 15 tahun mengatakan, “Kami tidak hanya kehilangan pekerjaan, tapi juga masih menunggu hak kami yang belum diberikan. Kami berharap ini segera diselesaikan,” ujarnya mengutip Video Kompas.

Meski begitu, momen perpisahan ini tetap menjadi ajang untuk saling menguatkan. Tidak sedikit yang berusaha tegar, saling berbagi cerita tentang masa-masa mereka bekerja bersama. Ada yang mengenang pertama kali mereka bergabung, ada pula yang bercerita tentang masa-masa kejayaan Sritex, saat pabrik ini menjadi kebanggaan Sukoharjo.

Melangkah ke Depan dengan Kenangan yang Tak Terhapuskan

Kini, ribuan pekerja Sritex menghadapi babak baru dalam hidup mereka. Beberapa telah berencana mencari pekerjaan di tempat lain, sementara yang lain berharap ada investor yang bisa menghidupkan kembali pabrik ini.

Dalam perpisahan ini, satu hal yang pasti: Sritex mungkin akan tutup, tetapi kebersamaan dan semangat yang telah terjalin di antara para karyawan akan tetap hidup. Seperti lirik lagu yang mereka nyanyikan bersama:

“Kau memberikan, kau relakan, hatimu untukku…”

Kenangan itu akan selalu tersimpan di hati mereka, sebagai bagian dari perjalanan hidup yang tak akan pernah terlupakan. (Rfi)