Skrol untuk membaca pos

Minta Maaf pada Suami Jadi Caraku Menyelamatkan Rumah Tanggaku

Muh. Rifai
Ilustrasi : THINKSTOCK.COM
A-AA+A++

Di dalam pergumulan hidup yang saya alami, Tuhan mempertemukan saya dengan seorang wanita yang begitu baik berkorban buat saya dan keluarga saya. Sekarang wanita ini seperti saudara dan menjadi sahabat terbaik saya. Dia seperti malaikat yang Tuhan kirimkan buat keluarga kami. Teman saya ini mendaftarkan saya untuk mengikuti sebuah camp. Saya mendapatkan pencerahan bahwa apa yang saya lakukan terhadap suami dan anak-anak selama ini salah bahkan merugikan bukan hanya orang lain tetapi diri sendiri. Saya telah meletakkan “keberhargaaan” diri kepada hal-hal duniawi yang fana tidak kekal dan bersifat sementara. Yang paling fatal, saya tidak tunduk terhadap suami.

Saya selalu berpikir bahwa berkat-berkat yang saya terima itu benar-benar atas kerja keras saya. Saya sadar dan bertobat! Sejak di camp selama tiga hari dua malam, saya terus merenungi semua yang terjadi dan keberadaan diri saya. Saya belum terlambat. Saya memutuskan dan memilih meletakkan “keberhargaan” diri saya kepada firman Tuhan, berdoa dan berusaha melakukannya dalam hidup sehari-hari. Saya mau menyelamatkan kembali rumah tangga saya. Saya sadar bahwa wanita berharga tidak ditentukan oleh penampilannya, jabatannya, kekayaannya, tetapi bagaimana ia bisa menerima dirinya sendiri.

Kalau hidup adalah sebuah pilihan dan sebuah keputusan, maka saya memilih menjadi wanita yang baik dan bijak untuk membangun kembali rumah tangga saya dan bukan meruntuhkannya. “Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.” Kalimat ini yang menyadarkan saya kembali. Tuhan menolong saya berubah saat itu juga.

Pulang dari camp tersebut, saya sujud kepada suami meminta maaf atas semua yang terjadi. Kami saling membuka hati dan bermaafan. Saya dan suami berkomitmen membuka lembaran baru. Dan mempersilakan suami saya untuk mengambil alih pimpinan nahkoda kapal kami. Penundukkan diri saya terhadap suami dan kesehatian kami berdua membuat rumah tangga kami mulai bangkit bersinar dan memiliki semangat yang baru penuh dengan damai sejahtera.

Masalah tetap ada dan sama tapi cara pandang kami berbeda. Keluarga saya dipulihkan. Sakit saya disembuhkan oleh karena muljizat Tuhan. Saya sangat bersyukur sekali kepada Tuhan yang telah menolong saya berubah dan menyelamatkan rumah tangga saya. Dan berterima kasih kepada sahabat saya yang membantu saya selama ini. Berterimakasih kepada suami saya terkasih dan anak-anak saya tercinta. Sumber: Vemale