HIDUP memang tentang pilihan. Setiap wanita pun berhak menentukan dan mengambil pilihannya sendiri dalam hidup. Seperti cerita sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba Menulis April 2018 My Life My Choice ini. Meski kadang membuat sebuah pilihan itu tak mudah, hidup justru bisa terasa lebih bermakna karenanya.
***
Saya seorang ibu dengan dua orang putra. Saya dan suami sama-sama bekerja di perusahaan swasta. Kami berdua membangun rumah tangga kami dari nol. Hidup sederhana di rumah kontrakan namun penuh dengan kebahagiaan. Suami sangat mencintai saya dan anak-anak. Seiring berjalannya waktu, saya yang hanya tamatan SMA mendapatkan promosi dari kantor untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Beberapa tahun kemudian, saya mendapatkan fasilitas rumah dengan perjanjian ikatan dinas. Kami memutuskan untuk menempati rumah tersebut. Kehidupan keluarga kami semakin bahagia.
Tahun 2012, keluarga kami mulai mengalami cobaan atau ujian hidup berumah tangga. Suami saya harus kehilangan pekerjaannya, karena perusahaan tutup. Bersyukur karena suami saya sangat dipercaya atasannya, suami masih dipekerjakan secara pribadi dan mendapatkan penghasilan seperti ketika masih di perusahaan. Di tahun yang sama, saya dipromosikan pindah bekerja ke tempat yang lebih baik dengan penghasilan yang semakin baik. Pergaulan saya semakin luas bahkan saya memiliki teman dari berbagai negara. Saya juga sering liburan ke luar kota atau luar negeri. Keluarga kamipun bisa mencicil sebuah mobil. Dan saya bisa merintis bisnis kecil-kecilan.
Keberhasilan yang saya terima dari Tuhan, saya salah gunakan. Saya menjadi seorang yang sombong terhadap suami dan selalu membandingkan suami saya dengan keberhasilan saya. Tanpa saya sadari saya menjadi dominan di dalam rumah tangga. Saya mengubah kehidupan rumah tangga saya menjadi “satu kapal dua kapten”. Saya mulai lupa diri dan merendahkan suami sebagai kepala keluarga. Suatu hari saya mengancamnya dengan membuat keputusan untuk keluar dari pekerjaan saya. Dengan keputusan saya ini, saya berharap suami bisa menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab menurut pandangan dan cara pikir saya.



