1 Mei 2016 saya pensiun dini. Keputusan bodoh yang telah saya ambil tidak pernah saya sadari akibatnya. Keputusan yang tidak pernah dipikirkan lebih dahulu, hanya mengedepankan emosi. Saat itu juga saya telah kehilangan pekerjaan dan rumah karena perjanjian ikatan dinas. Tiga bulan kemudian saya kehilangan mobil karena tidak sanggup mencicil lagi. Bahkan uang pensiun saya selama saya bekerja 21 tahun telah saya investasikan ke sebuah koperasi simpan pinjam dibawa kabur pemilik koperasi. Bisnis yang saya bangun hancur karena teman saya tidak mau lagi berbisnis dengan orang yang tidak punya uang.
Sekarang saya tidak memiliki harta lagi. Kami harus mengontrak rumah. Bahkan anak pertama saya terancam tidak kuliah karena tidak ada biaya. Saudara dan teman menjauhi saya. Saya memakan buah dari perbuatan saya sendiri. Saya sakit parah selama satu setengah tahun, dan harus mondar-mandir ke rumah sakit. Hari-hari yang saya dan keluarga saya jalani semakin berat. Kami kekurangan secara ekonomi. Tidak ada hari tanpa bertengkar dengan suami. Bahkan di depan anak-anak kami. Keributan demi keributan selalu saya yang mengawali. Seolah-olah semua ini terjadi karena kesalahan suami. Saat terjadi keributan tidak jarang saya mengeluarkan kata-kata pelecehan kepada suami, sehingga membuat hati suami sakit dan terluka. Bukan hanya suami, anak-anak pun ikut menderita. Saya sendiri pun mulai merasakan penderitaan yang begitu hebat karena perbuatan saya.
Di dalam ketidakberdayaan saya sebagai seorang istri dan seorang ibu, seringkali saya minta cerai dari suami, tapi suami saya tidak mau. Sampai suatu hari suami saya lelah dan capek menghadapi saya dan berkata, “Kalau memang bercerai membuat kamu bahagia. Lakukanlah!” Jantung ini seperti berhenti sebentar dan terasa sakit sekali. Hati nurani saya mulai berkecamuk.
Saya sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Saya hanya punya keluarga saja. Apakah saya tidak ingin mempertahankan keluarga saya? Ataukah saya juga ingin menghancurkannya? Saya mulai berpikir, banyak orang-orang di luar sana yang tidak memiliki keluarga yang utuh seperti saya. Mempunyai suami dan anak-anak yang baik dan sangat menyayangi saya. Kenapa sih, saya tidak pernah bersyukur? Saya masuk kamar menangis dan berdoa kepada Tuhan. Saya tiba-tiba menyesali semua perbuatan saya kepada suami dan anak-anak. Saya memberanikan diri meminta maaf kepada mereka dan menyalahkan diri saya atas semua yang terjadi di dalam rumah tangga kami.



