Namun kondisi sekolah dasar ini jauh dari ideal atau aman. Alwan menggambarkan, seklolah ini menyerupai penjara.
“Bahkan kami lebih sering mengajar di ruang-ruang berbau busuk yang tidak memiliki banyak reruntuhan,” katanya. Ruang-ruang ini tidak memiliki kursi dan meja, dan anak-anak duduk di atas selimut atau karpet tipis.
Sementara papan tulis tersedia, listrik disediakan dalam bentuk lampu LED yang dioperasikan oleh baterai.
Kurikulum yang diajarkan adalah versi revisi oleh pemerintah oposisi Suriah yang berbasis di Turki, yang menghapus sebagian besar konten yang dimasukkan oleh pemerintah Baath Suriah.
Salah satu contoh bahwa kurikulum yang direvisi dihapus adalah subyek nasionalisme, yang mengajarkan pencapaian Hafez al-Assad dan putranya serta Presiden Bashar saat ini.
Namun, meski upaya ini terbaik untuk melanjutkan pendidikan siswa, Khamooneh mengatakan, warga masih takut dengan pesawat tempur.
“Jika mengacu pada serangan terhadap sebuah sekolah dasar di Irbin yang menewaskan sedikitnya 16 anak dan empat wanita minggu lalu, sangat tidak aman jika berada di sini,” katanya.
Hidup dalam Kegelapan
Sarah Hajkarem (11), tinggal bersama orang tuanya dan dua adik laki-lakinya di salah satu tempat penampungan bawah tanah.
“Kami sudah berada di sini dalam kegelapan selama lebih dari satu bulan,” katanya. “Aku merindukan matahari dan bermain di jalanan sepulang sekolah.”
Tempat ini untuk berlindung, juga berfungsi sebagai sekolah, tetapi Sarah mengatakan, dia mengalami kesulitan fokus selama belajar, karena “bom tidak berhenti jatuh”.
“Kami berkumpul dalam lingkaran seperti orang yang lagi berdo’a di sebuah masjid di bawah lampu redup,” katanya. “Kami hampir tidak bisa melihat apa yang ditulis guru, kami juga tidak bisa menulis karena pena dan buku catatan tidak cukup untuk semua orang.”
Ruang bawah tanah penuh dengan tetangga Sarah, yang semuanya hanya makan satu kali sehari. Tidak banyak ruang untuk bergerak, dan anak-anak bermain dalam keheningan untuk tidak mengganggu orang dewasa.
Sarah, yang ingin belajar sastra Inggris dan menjadi guru, berharap kehidupan akan kembali normal.









