PALU – Gempa bumi tektonik dengan magnitudo 5,2 mengguncang Kuta Selatan, Bali, Rabu (20/11/2019) Pukul 03:27 Wib.
Dikutip Infopena dari Twitter @info BMKG, episentrum gempa terletak pada koordinat 12.96 Lintang Selatan (LS) dan 113.23 Bujur Timur (BT) atau 513 km Barat Daya Kutai Selatan, Bali pada kedalaman 10 km.
#Gempa Mag:5.2, 20-Nov-19 03:27:21 WIB, Lok:12.96 LS,113.23 BT (513 km BaratDaya KUTASELATAN-BALI), Kedlmn:10 Km, tdk berpotensi tsunami #BMKG pic.twitter.com/GDSs6mYsgQ
— BMKG (@infoBMKG) November 19, 2019
BMKG menyatakan, bahwa hasil pemodelan terhadap gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami.
Belum ada informasi terkait kerusakan akibat gempa, termasuk ada-tidaknya korban. Namun BMKG mengingatkan adanya potensi gempa susulan.
“Hati-hati terhadap gempa bumi susulan yang mungkin terjadi,” tutur BMKG.
Sejarah Gempa dan Tsunami di Bali
Dikutip dari Katadata.co.id, Bali memiliki kondisi geologis unik. Posisinya yang dekat dengan pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia membuat provinsi itu kerap mengalami gempa di wilayah selatan.
Adanya sesar naik Flores di timur laut juga bertanggung jawab terhadap aktivitas lindu di kawasan utara dan timur Pulau Dewata.
Aktivitas gempa pada sebulan terakhir di kawasan wisata andalan Indonesia ini sebenarnya bukanlah yang paling parah.
Berdasarkan katalog gempa periode 1538-1877 yang disusun oleh ahli geologi dan mineral asal Jerman, Arthur Wichmann pada tahun 1918, Bali pernah dilanda gempa berkekuatan 7 M pada 22 November 1815.
Gempa yang terjadi dua abad silam itu bukan hanya mengakibatkan kerusakan, di saat yang sama ombak tsunami menggulung wilayah pesisir Bali bagian utara.
Kejadian dahsyat ini sering diperingati oleh masyarakat sekitar sebagai “Gejer Bali” alias Bali bergetar.
Gempa kala itu diperkirakan juga terasa hingga Surabaya di wilayah barat dan Lombok dan Bima di belahan timur.
Berdasarkan catatan Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) Amerika Serikat, kejadian Gejer Bali telah mengakibatkan 1.200 orang meninggal akibat gempa dan terjangan tsunami.
Catatan sejarah lainnya oleh AAN Sentanu yang diarsipkan di Museum Puri Ayodya Buleleng, Bali, menunjukkan, saat itu wilayah terdampak adalah kawasan pusat kerajaan Buleleng di Singaraja.
Dalam penanggalan tradisional, Gejer Bali terjadi pada hari Rabu Umanis Kurantil tahun Saka 1737. Singaraja yang saat itu merupakan pusat pemerintahan sekaligus pemukiman yang sentral kemudian luluh lantah akibat gempa.
Bahkan dalam naskah sejarah itu juga menyebutkan gempa mengakibatkan pegunungan retak hingga longsor dengan suara yang keras menyerupai guntur.
Arsip sejarah lainnya tentang kejadian ini juga tercatat dalam kejadian sejarah milik kerajaan-kerajaan di Bali atau Babad.
Dua Babad yang tersimpan di Museum Gedung Kirtya, yaitu Babad Ratu Panji Sakti dan Babad Buleleng menyebutkan, pasca kejadian gempa pegunungan yang menjulang di wilayah Singaraja kemudian longsor, disusul datangnya gulungan air bah yang menghanyutkan kawasan pesisir.
Selain itu, Bali bagian utara juga pernah diguncang gempa berkekuatan 7 M pada abad yang sama. Tepatnya pada 13 Mei 1857.
Meski berkekuatan sama dengan gempa sebelumnya, namun dilaporkan korban meninggal lebih sedikit, yaitu 36 orang.
Pada 14 Juli 1976 gempa berkekuatan 6,5 M mengguncang wilayah barat daya Pulau Dewata. Lindu ini menyebabkan 90% rumah-rumah di Kabupaten Buleleng rusak parah.
Sebuah sekolah di Kecamatan Seririt runtuh dan menyebabkan 200 siswa terjebak di dalamnya. Kejadiannya begitu mencekam sehingga lindu ini kerap disebut Gempa Seririt.
Akibat gempa itu, sebanyak 573 orang meninggal. Empat ribu lainnya menderita luka-luka dan 450 ribu orang tak memiliki tempat tinggal.
Catatan sejarah gempa di Bali paling parah banyak terjadi di wilayah utara. Namun, banyak pula kejadian-kejadian gempa yang berpusat di wilayah selatan.
Gempa akibat subduksi lempeng di kawasan selatan yang terparah pernah terjadi pada Kamis pagi, 13 Oktober 2011. Lindu berkekuatan 6,8 skala Richter mengakibatkan kerusakan sedang di wilayah Nusa Dua, Bali dengan laporan puluhan orang luka-luka.
Aktivitas tektonik tersebut berpusat di lautan dengan jarak 143 km arah barat daya Nusa Dua, Bali, pada kedalaman 10 km. [***]

