oleh

CELCI: Saatnya Evaluasi Target Pengurangan Emisi Sulawesi Tengah

PALU – Koalisi masyarakat sipil yang tergabung dalam Celebes Climate Initiative (CELCI) mendesak pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk mengevaluasi target pengurangan emisi yang pernah dicanangkan tahun 2012 silam.

Pada tahun 2010-2012 silam, Gubernur Sulawesi Tengah pernah berkomitmen bahwa Sulawesi Tengah akan berkontribusi 3% pemangkasan emisi dari rata-rata nasional. Hal itu dilandasi pada kedudukan Sulawesi Tengah kala itu sebagai daerah percontohan kesiapan uji coba REDD+, melalui dukungan UNREDD Program dan BAPPENAS.

Koordinator Celebes Climate Initiative (CELCI), Azmi Sirajuddin mengingatkan Pemprov Sulteng agar dokumen.Rencana Aksi Daerah (RAD) Gas Rumah Kaca (GRK) ditinjau ulang untuk melihat capaian per sektor.

“Kalau melihat Peraturan Gubernur Sulteng No.30 Tahun 2012 Tentang RAD GRK Sulteng, ambisi 3% itu besar tantangannya, karena sektor penggunaan lahan dan hutan masih teebesar sebagai sumber emisi mencapai 99%, dibandingkan dengan sektor energi dan limbah”, ujar Azmi.

Pria yang pernah menjabat Ketua Dewan Daerah Walhi Sulteng dan Anggota Dewan Nasional Walhi itu, menyarankan agar ambisi di RAD GRK Sulteng diselaraskan kembali dengan dokumen National Determined Contribution (NDC) Indonesia.

Sementara itu, pegiat CELCI lainnya dari Yayasan KOMIU Andika Jounastya melihat bahwa sektor energi baru dan terbarukan (EBT) di Sulteng dapat dioptimalkan untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil. “Sumber air melimpah bisa untuk pengembangan PLTM (mikrohidro), begitupun angin dan matahari, ini hanya soal kemauan saja”, ujarnya.

Berdasarkan dokumen RAD GRK Sulteng tahun 2012, proyeksi pelepasan emisi tahun 2010 mencapai 78,4 Ton Carbon Equivalent, tapi meningkat di tahun 2020 sebesar 250 juta Ton Carbon Equivalent. Setelah tahun 2020, mestinya proyeksi dan capaian di lapangan dievaluasi.

BACA JUGA  EKONESIA: Pemda Jangan Lalai dengan Bencana Iklim

Ditanya tentang hasil dari forum COP26 di Glasgow, Skotlandia, Azmi Sirajuddin menyatakan kekecewaannya. “Hasil COP26 melenceng jauh dari spirit Paris Agreement tahun 2015, kepentingan Business As Usual kalangan korporasi dan investasi lebih diperhatikan daripada target penurunan suhu bumi di bawah 2 derajat pada tahun 2030”, tambahnya.

Cekebes Climate Initiative (CELCI) berharap isu krisis iklim diyakini semua pihak. Mengingat bahwa krisis iklim bukan lagi ilusi atau imajinasi, tapi fakta. Apalagi, mengingat bahwa daerah Sulawesi Tengah wilayah yang tinggi riwayat kebencanaannya. Jika mengacu data BNPB tahun 2019 silam, bencana ekologis seperti longsor, banjir bandang, banjir, angin kencang dan puting beliung sering terjadi di daerah ini.

“Krisis iklim akan memicu peningkatan bencana ekologis seperti banjir, banjir bandang, longsor, angin kencang dan puting beliung dari tahun ke tahun” ujat Azmi menutup pembicaraan.

Komentar

Masih Hangat