Harga emas dunia melemah menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed), Rabu, 28 Oktober 2026, waktu Amerika Serikat. Penguatan dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah yang menembus 5%, dan kenaikan harga minyak membuat XAU/USD rentan terhadap tekanan jual, sementara pelaku pasar menunggu petunjuk arah kebijakan moneter berikutnya.
Data teknikal Borearis pada Rabu (28/10/2026) pukul 14.04 WITA mencatat XAU/USD di US$4.030,44 per troy ounce, turun 0,80% pada pembaruan tersebut. Reuters pada waktu yang hampir bersamaan melaporkan harga emas spot turun 0,7% menjadi US$4.030,20 per ounce pada pukul 06.02 GMT atau 14.02 WITA. Angka tersebut merupakan data pada waktu pengamatan, bukan kuotasi langsung saat artikel dibaca.
Dolar AS dan Yield Treasury Menekan Emas
Tekanan terhadap logam mulia sejalan dengan penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Reuters melaporkan indeks dolar AS berada di 102,40, mendekati level tertinggi sejak 14 Oktober. Pada saat yang sama, yield Treasury AS tenor 10 tahun naik 2,2 basis poin menjadi 5,0112%. Pergerakan tersebut memperlihatkan pasar masih memperhitungkan risiko suku bunga tinggi di tengah kekhawatiran inflasi.
Dolar yang menguat membuat emas berdenominasi dolar lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Sementara itu, yield obligasi yang tinggi meningkatkan biaya peluang memegang emas karena logam mulia tidak memberikan bunga.
Kombinasi kedua faktor tersebut membatasi ruang pemulihan XAU/USD. Apabila The Fed memberi sinyal kebijakan yang lebih ketat daripada perkiraan pasar, dolar dan yield berpotensi kembali menguat sehingga menambah tekanan terhadap harga emas.
Lonjakan Minyak Membayangi Prospek Emas
Pergerakan harga energi turut menjadi perhatian menjelang keputusan bank sentral AS. Reuters melaporkan harga minyak naik setelah serangan terhadap fasilitas kilang minyak di Arab Saudi memicu kekhawatiran gangguan pasokan. Kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, meski klaim itu perlu dibedakan dari konfirmasi resmi otoritas terkait.
Dalam laporan Reuters pada 28 Oktober, minyak Brent naik 1,4% menjadi US$115,47 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,4% menjadi US$101,33 per barel.




