Skrol untuk membaca pos

Roma di Puncak Serie A, 12 Poin dan Baru Kebobolan Sekali

Muh. Rifai
As Roma Vs Torino. Foto: Ai
A-AA+A++

Di situlah perbedaan kedua tim terlihat.

Torino punya bola, tetapi Roma punya momen.

Torino Mencoba Bangkit, Roma Tetap Tenang

Tertinggal satu gol membuat Torino bermain lebih terbuka setelah jeda. Ignazio Abate melakukan sejumlah perubahan untuk meningkatkan energi dan kreativitas timnya.

Roma juga melakukan rotasi. Rodrigo Mora masuk menggantikan Soulé pada menit ke-56, Santiago Castro menggantikan Malen pada menit yang sama, kemudian Manu Koné dan Marten de Roon masuk pada menit ke-64 untuk menggantikan Cristante dan Dybala. Emanuele Lulli kemudian digantikan Devyne Rensch pada menit ke-88.

Pergantian tersebut bukan sekadar soal menyegarkan tenaga. Gasperini tampaknya ingin menjaga keseimbangan tim.

Ketika Torino mulai mendapat momentum, Roma tidak terburu-buru membuka ruang. Struktur tiga bek tetap menjadi fondasi, sementara lini tengah bekerja untuk memutus aliran bola menuju Simeone dan Vlašić.

Torino sebenarnya memiliki peluang untuk menyamakan kedudukan. Data pertandingan menunjukkan tuan rumah menghasilkan 0,76 expected goals sepanjang laga, termasuk periode yang lebih baik setelah turun minum. Tetapi penyelesaian akhir menjadi masalah.

Roma, sebaliknya, lebih klinis.

Mereka tidak membutuhkan banyak peluang untuk membuat Torino berada dalam masalah.

Pisilli Datang di Saat yang Tepat

Memasuki menit-menit akhir, Torino masih berharap bisa mencuri satu gol. Tetapi justru Roma yang memberikan pukulan terakhir.

Pada menit ke-90+3, Niccolò Pisilli mencetak gol kedua Roma.

Prosesnya juga menggambarkan bagaimana Roma terus bekerja sampai detik terakhir. Gianluca Mancini berjuang di sisi kanan sebelum bola diteruskan ke Castro. Bola kemudian terintersep, tetapi jatuh ke jalur Pisilli yang langsung menyelesaikannya dengan kaki kanan. Skor berubah menjadi 2-0.

Gol tersebut mengakhiri perlawanan Torino sekaligus memberikan gambaran lain mengenai Roma musim ini.

Bukan hanya Malen.

Bukan hanya Dybala.

Bukan hanya pemain inti.

Pisilli, yang dipercaya tampil sejak awal, ikut memberikan kontribusi penting. Begitu pula para pemain pengganti yang membantu Roma mempertahankan intensitas hingga pertandingan benar-benar selesai.

Itulah salah satu tanda menarik dari skuad Gasperini. Ketika satu pemain mulai kehabisan tenaga, ada pemain lain yang bisa masuk tanpa membuat struktur permainan runtuh.