Skrol untuk membaca pos

Karhutla Sulteng Terancam Naik, Pemprov Perkuat Penanganan

Muh. Rifai
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid memimpin rapat koordinasi penanganan karhutla dan kekeringan di Ruang Rapat Polibu, Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Senin (31/8/2026). Foto: Istimewa
A-AA+A++

Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid meminta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memasuki September 2026. Permintaan itu disampaikan setelah Agustus menjadi periode puncak kekeringan yang turut diikuti meningkatnya kejadian karhutla di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah.

Anwar Hafid memimpin langsung Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Karhutla dan Kekeringan di Ruang Rapat Polibu, Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Senin (31/8/2026). Rakor tersebut diikuti unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan sejumlah instansi terkait.

Dalam rapat tersebut, Anwar meminta penanganan karhutla dilakukan lebih masif dan terkoordinasi. Pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten dan kota serta aparat diminta memperkuat langkah pencegahan agar kebakaran tidak meluas.

“Hari ini kita melaksanakan salah satu kegiatan yang sangat penting dan mendesak bagi daerah kita Sulawesi Tengah, yaitu membahas langkah-langkah apa yang harus kita lakukan agar penanganan karhutla ini lebih masif lagi kita lakukan sehingga tidak meluas kerusakan yang ditimbulkan,” kata Anwar.

Gubernur mengatakan, koordinasi lintas sektor menjadi salah satu kunci dalam menghadapi karhutla. Upaya yang sudah dilakukan di masing-masing daerah perlu disatukan agar penanganan di lapangan dapat berjalan lebih cepat.

Sebelum rakor digelar, Anwar mengaku telah berkoordinasi dengan sejumlah unsur Forkopimda, termasuk Pangdam, Kajati, dan Kapolda. Koordinasi tersebut dilakukan untuk menyusun langkah bersama menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.

“Langkah-langkah yang sudah kita lakukan baik di tingkat kabupaten kota bisa lebih sinergi lagi sehingga kita bisa mengantisipasi dampak kerugian yang lebih besar yang terjadi akibat kebakaran hutan ini,” ujarnya.

Data BPBD Provinsi Sulawesi Tengah hingga 28 Agustus 2026 menunjukkan karhutla terjadi di sejumlah wilayah. Kota Palu menjadi salah satu daerah yang tercatat mengalami kebakaran, salah satunya di kawasan Poboya dengan luas sekitar satu hektare.

Sementara itu, Kabupaten Tojo Una-Una menjadi salah satu wilayah dengan kejadian karhutla cukup besar. Kebakaran terjadi di beberapa desa, dengan salah satu lokasi tercatat memiliki luas lahan terbakar sekitar 83 hektare.

Karhutla juga terjadi di Kabupaten Banggai, Donggala, Parigi Moutong, Tolitoli, Poso, dan Buol. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena potensi kebakaran dapat meningkat ketika kondisi lahan dan lingkungan masih kering.