Pasangan ganda putra Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, harus puas finis sebagai runner up di Singapore Open 2026 setelah kalah dari wakil India, Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty, pada partai final. Dalam pertandingan yang berlangsung ketat, Fajar/Fikri sempat merebut gim pertama sebelum akhirnya menyerah dengan skor 21-18, 17-21, 16-21.

Hasil tersebut membuat Fajar/Fikri kembali gagal mengakhiri catatan kurang baik mereka di partai puncak. Meski demikian, keduanya tetap bersyukur atas pencapaian yang diraih dan bertekad menjadikan hasil ini sebagai bahan evaluasi untuk menghadapi turnamen-turnamen berikutnya.

Fajar Alfian mengaku dirinya dan Fikri sudah mengeluarkan kemampuan terbaik sepanjang pertandingan. Namun, ia menilai pasangan India tampil sangat baik dan mampu menunjukkan permainan yang sulit diantisipasi.

“Pertama-tama kami mengucapkan terima kasih atas dukungan dari semua yang telah mendukung. Kami tetap bersyukur meskipun belum menjadi juara. Kami sudah main maksimal tapi harus diakui lawan bermain sangat baik hari ini,” ujar Fajar.

Menurutnya, Rankireddy dan Shetty tampil dengan kepercayaan diri tinggi serta memiliki pola serangan yang sangat efektif. Situasi tersebut membuat Fajar/Fikri beberapa kali terpaksa mengangkat bola dan memberikan kesempatan kepada lawan untuk melancarkan serangan mematikan.

“Mereka sangat percaya diri dan mempunyai serangan yang sangat mematikan, beberapa kali kami terpaksa mengangkat bola yang langsung bisa dimanfaatkan,” katanya.

Fajar juga menilai performa pasangan India sepanjang turnamen memang sangat impresif. Sebelum mencapai final, Rankireddy/Shetty berhasil mengalahkan pasangan kuat asal Korea Selatan, Kim Won-ho/Seo Seung-jae, yang menjadi salah satu unggulan turnamen.

“Mereka di turnamen ini memang tampil sangat baik, kemarin juga luar biasa mengalahkan Kim/Seo. Selamat untuk Rankireddy/Shetty,” lanjut Fajar.

Pada pertandingan final, Fajar/Fikri sebenarnya mengawali laga dengan baik. Mereka mampu mengamankan gim pertama dengan skor 21-18 melalui permainan agresif dan penguasaan depan net yang cukup efektif. Namun, situasi berubah pada dua gim berikutnya.

Muhammad Shohibul Fikri menjelaskan bahwa lawan melakukan perubahan strategi yang cukup signifikan setelah kehilangan gim pertama. Perubahan itu membuat pasangan Indonesia kesulitan mengembangkan permainan dan lebih banyak berada dalam tekanan.

“Di gim kedua dan ketiga mereka mengubah dari servis dan pengembalian pertama, mereka lebih cepat, lebih rapat juga jadi kami lebih banyak angkat bola dan itu menjadikan kami tertekan dengan situasi yang tidak bagus,” kata Fikri.

Menurutnya, tekanan yang terus diberikan lawan membuat mereka kesulitan keluar dari ritme permainan Rankireddy/Shetty. Meski sudah berupaya mencari solusi di lapangan, pasangan India tetap tampil solid hingga akhir pertandingan.

“Kami tetap selalu berusaha untuk keluar dari tekanan itu tapi mereka solid sekali,” ujarnya.

Kekalahan di final ini juga memperpanjang catatan kurang memuaskan Fajar/Fikri di laga perebutan gelar. Fajar mengungkapkan bahwa mereka kini telah lima kali tampil di final namun belum berhasil naik ke podium tertinggi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus bagi pasangan Indonesia. Selain terus meningkatkan kualitas teknik dan fisik melalui latihan, Fajar menilai aspek mental juga harus mendapatkan perhatian lebih agar mampu menghadapi tekanan saat tampil di partai puncak.

“Kami coba belajar dari hal ini, di samping latihan yang keras, kami juga harus mengasah mental dalam situasi sulit. Kami harus bisa memecahkan masalah ini, sudah lima kali tampil di final tapi selalu menjadi runner up,” ungkap Fajar.

Ia menambahkan bahwa evaluasi akan dilakukan bersama tim pelatih dan seluruh pendukung yang selama ini membantu perkembangan mereka. Harapannya, hasil evaluasi tersebut dapat menjadi bekal untuk meraih gelar juara pada kesempatan berikutnya.

“Kami akan komunikasi dengan pelatih dan tim pendukung lainnya. Semoga kami bisa juara di lain kesempatan,” katanya.

Usai turnamen ini, fokus Fajar/Fikri langsung tertuju pada ajang Indonesia Open yang akan berlangsung pekan depan di Istora Senayan, Jakarta. Turnamen berstatus BWF World Tour Super 1000 tersebut menjadi salah satu target utama pasangan Indonesia musim ini.

Fajar berharap dirinya dan Fikri dapat tampil lebih baik di hadapan pendukung sendiri. Dukungan publik Istora yang dikenal mampu memberikan energi tambahan bagi para pemain Indonesia diharapkan bisa menjadi motivasi untuk meraih hasil maksimal.

“Setelah ini, semoga kami terus konsisten di tahun ini. Kami memiliki banyak target di tahun ini, salah satunya yang terdekatnya adalah Indonesia Open minggu depan. Kami ingin menampilkan yang terbaik di sana, di hadapan publik sendiri, di Istora Senayan. Berharap kami bisa all out,” ujar Fajar.

Sementara itu, Fikri menegaskan bahwa persiapan menuju Indonesia Open tidak hanya berfokus pada latihan di lapangan. Menurutnya, kondisi mental, fokus, serta pemulihan fisik menjadi faktor penting yang harus dijaga agar bisa tampil kompetitif di turnamen berikutnya.

“Kami harus menjaga segi pikiran, mental dan fokusnya untuk bisa tampil baik di Indonesia Open. Recovery badan juga harus sangat baik,” tutur Fikri. (Red)