Semua orang berbicara soal pesta juara. Semua orang sudah membayangkan selebrasi. Di titik inilah bahaya terbesar muncul. Karena ketika satu tim terlalu percaya diri, lawan yang datang tanpa beban justru bisa bermain lebih lepas dan lebih berani.
Mario Lemos memahami situasi itu dengan sangat baik. Pelatih asal Portugal tersebut meminta pemainnya menikmati pertandingan dan tidak silau dengan atmosfer besar yang akan terjadi di Bandung.
“Kita akan bermain melawan tim terbaik di kompetisi saat ini. Kita harus bisa main tanpa tekanan, bisa memberikan hiburan untuk penonton. Saya pikir kita harus tampil sebagai tim Persijap yang kompak, disiplin karena Persib punya banyak pemain berkualitas. Kita harus fokus ke tim kita sendiri untuk melakukan yang terbaik,” tegasnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan pesan yang tajam. Persijap tahu mereka bukan favorit. Namun justru karena itulah mereka bisa bermain lebih bebas. Tidak ada tuntutan besar. Tidak ada tekanan harus juara. Mereka sudah aman dari degradasi. Mereka hanya perlu masuk lapangan dan bertarung habis-habisan.
Sementara itu, Persib memikul ekspektasi jutaan pendukung. Satu kesalahan kecil bisa berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan pesta yang sudah dipersiapkan sejak jauh hari. Tekanan psikologis itu nyata. Dan Persijap datang membawa modal keberanian untuk memanfaatkannya.
Mario Lemos bahkan mengaku tidak gentar dengan penuh sesaknya stadion nanti. Baginya, dukungan Bobotoh justru menjadi tambahan motivasi bagi anak asuhnya.
“Besok pasti penonton akan memenuhi stadion. Dan saya ingin pemain kami enjoy, tidak ada tekanan dan main dengan cara yang sama. Keberadaan suporter Persib juga akan memberikan motivasi kita juga. Persib memang belum pernah kalah di kandang, tapi dalam sepak bola, tidak ada yang tidak mungkin,” pungkasnya.
Ucapan itu seperti peringatan keras untuk Persib. Rekor kandang, atmosfer stadion, hingga status kandidat juara tidak akan berarti apa-apa jika lengah sedikit saja. Persijap datang dengan mental petarung. Mereka tidak membawa rasa takut. Mereka datang membawa keyakinan bahwa kejutan selalu punya tempat dalam sepak bola.







