Skrol untuk membaca pos

Hantavirus Bisa Sebabkan Kematian, Kenali Gejalanya

Muh. Rifai
Hantavirus. Ilustrasi AI
A-AA+A++

Di kawasan Amerika, HCPS tercatat lebih jarang terjadi. Amerika Serikat melaporkan kurang dari seribu kasus sejak penyakit ini dikenali. Negara-negara seperti Argentina, Brasil, Chili, dan Paraguay juga melaporkan sejumlah kecil kasus setiap tahunnya. Meski jumlah kasus lebih sedikit, tingkat kematian akibat HCPS tetap tinggi, berkisar antara 20 hingga 40 persen.

Penularan hantavirus pada manusia umumnya terjadi saat seseorang menghirup partikel virus dari urin, kotoran, atau air liur tikus yang mengering dan bercampur di udara. Risiko paparan meningkat pada aktivitas yang berhubungan dengan area tertutup atau kotor yang banyak tikus, seperti membersihkan gudang, lumbung, rumah kosong, pertanian, hingga pekerjaan kehutanan.

Selain itu, tidur di tempat yang dipenuhi tikus juga meningkatkan risiko infeksi. Meski lebih jarang, penularan juga bisa terjadi akibat gigitan hewan pengerat yang terinfeksi.

Gejala awal hantavirus sering menyerupai penyakit umum lain sehingga diagnosis dini menjadi tantangan. Penderita biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, dan sakit perut dalam waktu satu hingga delapan minggu setelah terpapar virus.

Pada kasus HCPS, kondisi dapat berkembang cepat menjadi batuk berat, sesak napas, penumpukan cairan di paru-paru, hingga syok. Sedangkan pada HFRS, pasien dapat mengalami tekanan darah rendah, gangguan pembekuan darah, dan gagal ginjal.

WHO menyebut gejala awal hantavirus sering menyerupai influenza, COVID-19, leptospirosis, pneumonia virus, demam berdarah, hingga sepsis. Karena itu, riwayat paparan terhadap tikus dan lingkungan menjadi faktor penting dalam proses diagnosis.

Konfirmasi infeksi dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium seperti tes antibodi IgM dan IgG spesifik hantavirus atau metode molekuler RT-PCR yang dapat mendeteksi RNA virus pada fase akut penyakit.

Hingga saat ini belum tersedia obat antivirus khusus maupun vaksin berlisensi untuk mengatasi hantavirus. Penanganan pasien lebih difokuskan pada terapi suportif, pemantauan ketat, dan penanganan komplikasi pada paru-paru, jantung, serta ginjal.

WHO menyatakan akses cepat terhadap perawatan intensif dapat meningkatkan peluang hidup pasien, terutama pada penderita HCPS yang mengalami gangguan pernapasan berat.