Skrol untuk membaca pos

AKSI vs Visi: Konflik atau Dinamika Menuju Ekosistem Musik yang Lebih Adil?

Muh. Rifai
A-AA+A++

Munculnya Asosiasi Komposer Seluruh Indonesia (AKSI) yang disusul oleh Vibrasi Suara Indonesia (Visi) telah memicu diskusi luas di masyarakat, khususnya di Media Sosial.

Banyak yang melihatnya sebagai konflik antara pencipta lagu dan penyanyi, tetapi jika ditelaah lebih dalam, ini lebih dari sekadar pertentangan kepentingan. Ini bisa jadi adalah dinamika yang diperlukan untuk menciptakan keseimbangan dalam ekosistem musik Indonesia yang selama ini cenderung berat sebelah.

Dalam industri musik, penyanyi hampir selalu menjadi pusat perhatian. Mereka mendapatkan bayaran tinggi dari berbagai penampilan. Sementara komposer, yang menciptakan lagu-lagu tersebut, sering kali hanya bergantung pada royalti, yang terkadang tidak sebanding dengan nilai ekonomi lagu yang mereka ciptakan.

Maka, munculnya AKSI adalah respons dari ketimpangan ini. AKSI ingin memperjuangkan hak-hak komposer agar mendapatkan apresiasi yang lebih layak, baik dari sisi finansial maupun regulasi. Mereka ingin memastikan bahwa pencipta lagu tidak lagi berada di bayang-bayang penyanyi, tetapi memiliki posisi yang lebih dihargai dalam industri.

Sementara, kemunculan Visi tidak bisa dilepaskan dari gerakan AKSI. Jika AKSI berjuang untuk mendapatkan hak yang lebih adil bagi komposer, maka Visi, yang diprakarsai oleh para penyanyi, bisa dipandang sebagai upaya mempertahankan status quo atau bahkan bagian dari strategi yang lebih besar.

Bisa jadi, kemunculan Visi bukan sekadar reaksi spontan, tetapi bagian dari negosiasi terbuka yang sedang terjadi di industri musik. Jika hanya ada satu kelompok yang menekan perubahan, maka industri bisa bergerak terlalu cepat ke satu arah. Dengan adanya dua kekuatan besar yang berseberangan, diskusi menjadi lebih terbuka dan dapat mengarah pada kompromi yang lebih adil.

Salah satu hal positif dari fenomena ini adalah semakin besarnya perhatian terhadap regulasi industri musik. Dengan adanya AKSI yang memperjuangkan hak komposer dan Visi yang membela kepentingan penyanyi, maka perdebatan ini bisa berujung pada pembaruan sistem royalti dan hak ekonomi dalam musik.

Regulator seperti Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) dan pemerintah kini semakin mendapat tekanan untuk menyusun regulasi yang lebih adil. Bisa jadi, dalam beberapa tahun ke depan, kita akan melihat: