WhatsApp Image 2026-10-26 at 23.12.47

Prabowo Subianto dan Refleksi Pentingnya Menulis Tangan

Muh. Rifai
Momen Presiden Prabowo Subianto sedang khusyuk mencatat di buku tulis, mendengarkan wejangan dari tokoh lingkungan dan ekonom terkemuka, Prof. Emil Salim. Foto: Instagram @presidenrepublikindonesia
A-AA+A++

Di tengah dominasi layar sentuh dan perangkat digital, sebuah momen sederhana namun bermakna muncul di hadapan kita.

Sebuah foto memperlihatkan Presiden Prabowo Subianto sedang khusyuk mencatat di buku tulis, mendengarkan wejangan dari tokoh lingkungan dan ekonom terkemuka, Prof. Emil Salim.




Goresan tangannya di atas kertas seolah mengingatkan kita bahwa di balik kecanggihan teknologi, ada kebijaksanaan dalam aktivitas sederhana. Menulis tangan.

Momen langka ini mengingatkan kebiasaan yang mungkin sudah mulai memudar di tengah gempuran gadget. Apakah ini sekadar kebiasaan pribadi atau justru pesan yang ingin disampaikan Prabowo kepada kita tentang pentingnya aktivitas menulis tangan.

Apa pun itu, momen ini menjadi pintu masuk yang tepat membahas manfaat menulis dengan tangan yang sering kali dilupakan. Berikut manfaat menulis tangan dirangkum dari berbagai sumber.

Aktivitas Kuno yang Mengakar dalam Pembelajaran

Menulis tangan bukan hanya soal mengguratkan tinta di atas kertas. Aktivitas ini melibatkan keterlibatan sensorimotor yang kompleks, di mana otak bekerja lebih aktif dibandingkan saat mengetik di perangkat digital.

Menurut berbagai penelitian, menulis tangan mampu memperkuat daya ingat, meningkatkan pemahaman, dan bahkan mengasah kreativitas.

Mengapa menulis tangan penting? Sebuah studi dari Universitas Princeton dan UCLA menemukan bahwa mahasiswa yang mencatat dengan tangan lebih mudah memahami dan mengingat materi kuliah dibandingkan mereka yang mengetik.

Ini karena ketika menulis tangan, otak harus menyaring informasi, merangkumnya dalam bahasa yang mudah dipahami, dan membangun koneksi kognitif yang lebih dalam.

Proses Sensorimotor yang Kompleks

Saat menulis dengan tangan, otak bekerja secara simultan mengintegrasikan gerakan tangan, penglihatan, dan pemahaman bahasa. Aktivitas ini mengaktifkan area korteks motorik dan hippocampus, bagian otak yang bertanggung jawab terhadap penyimpanan memori.

Dr. Karin James, peneliti saraf kognitif, menyatakan, bahwa menulis tangan memberikan rangsangan yang tidak diaktifkan oleh mengetik.

Proses ini memperkuat koneksi saraf, menciptakan “jejak” memori yang lebih dalam. Ketika mengetik, kita hanya menekan tombol tanpa terlalu memikirkan struktur huruf atau bentuk kata, sehingga informasi lebih mudah terlupakan. Sebaliknya, menulis tangan memaksa kita memvisualisasikan huruf demi huruf, menginternalisasi makna di balik kata-kata tersebut.