Sebuah video dari pelosok Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial, terutama Facebook. Dalam rekaman tersebut, tampak para tamu undangan yang datang ke sebuah acara dengan khidmat menjalani sebuah tradisi unik, mereka menyentuhkan hidung satu sama lain. Aksi sederhana namun penuh makna ini sukses mencuri perhatian banyak orang dan memicu rasa penasaran.
Ternyata, itu adalah tradisi. Tradisi ini dikenal sebagai “Henge’do,” sebuah warisan budaya dari Suku Sabu yang tinggal di Pulau Sabu, Kabupaten Sabu Raijua, NTT. Dalam tradisi ini, setiap individu yang hadir, tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau status sosial, akan saling menyentuhkan hidung mereka sebagai bentuk salam hangat dan penghormatan. Gerakan ini dilakukan dengan penuh kehati-hatian, seolah mengandung pesan mendalam yang ingin disampaikan.
Bukan sekadar ritual formal, Henge’do sarat dengan nilai-nilai luhur. Di balik gestur sederhana itu, ada simbolisasi keakraban, rasa persaudaraan, dan keterikatan emosional yang kuat. Hidung, sebagai alat vital untuk bernapas, dianggap sebagai perwakilan kehidupan itu sendiri. Dengan menyentuhkan hidung, seolah kedua pihak menghidupkan rasa kekeluargaan, bahkan ketika mereka baru pertama kali bertemu.
Lebih dari sekadar sapaan, tradisi ini juga menjadi cara untuk menyelesaikan konflik. Dalam masyarakat Sabu, ketika dua pihak berseteru, mereka akan dipertemukan dan diminta melakukan Henge’do. Sentuhan hidung ini menjadi simbol pengakuan atas kesalahan dan penanda bahwa permasalahan telah selesai.
Tak hanya sebagai alat mediasi, tradisi ini juga sarat makna kejujuran. Kontak mata yang terjadi selama proses Henge’do mencerminkan kejujuran dan ketulusan antara dua individu. Ada semacam keintiman yang tercipta—keintiman yang sulit dirasakan dalam sapaan biasa.
Fenomena Henge’do mungkin mengingatkan kita pada tradisi serupa di belahan dunia lain, seperti Hongi dari suku Maori di Selandia Baru atau tradisi saling menyentuhkan hidung di Oman. Namun, Henge’do memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan Maori yang menggesekkan hidung atau Oman yang melakukannya hanya di antara laki-laki, tradisi ini berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin.


