Skrol untuk membaca pos

4 Alasan Kenapa Media Sosial Harus Dipisah dengan E-Commerce

Muh. Rifai
A-AA+A++

“Data demografi pengguna dan agregat sangat memungkinkan untuk diduplikasi sebagai dasar pembuatan produk sendiri atau terafiliasi oleh platform yang menjalankan bisnis secara bersamaan,” kata Fiki.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan hal senada. Menurut dia, sebuah platform memang sudah sewajarnya untuk dilarang menjalankan bisnis media sosial dan e-commerce secara bersamaan. Jika tidak diatur, berpotensi menghadirkan persaingan dagang yang tidak sehat.

“Kalau di luar negeri memang dipisah, jadi sosial media dan e-commerce itu dipisah atau tidak jadi satu,” kata dia.

Menurut Bhima, pemisahan ini diperlukan salah satunya untuk menjaga keamanan data. Penyalahgunaan data akan lebih sulit dilakukan jika dipahami di dua platform berbeda. Selain itu, pengawasan yang dilakukan juga dapat lebih optimal karena tidak tumpang tindih.

Tak hanya itu, sebuah platform juga tidak bisa lagi memanfaatkan algoritma media sosialnya untuk berjualan.

“Setidaknya algoritma media sosial tidak diarahkan untuk kepentingan penjualan barang di e-commerce,” ujar Bhima.

Content Creator dengan akun @janes_cs juga mengutarakan pendapat yang sama pada postingannya di platform TikTok, Rabu (27/9). Pembuat konten yang memiliki pengikut 2,8 juta ini mengatakan platform media sosial dan e-commerce memang harus dipisahkan.

“Persoalannya, platform ini mengelola uang kita. Saya pribadi sebagai awam pandangan legalitas dari platform ini untuk mengelola uang, mengelola transaksi. Ini kok bisa platform yang berbasis sosial media ini mengelola transaksi,” kata dia.

Menurutnya, revisi regulasi yang dilakukan pemerintah saat ini sudah tepat namun terlambat. Tapi, dia lebih menekankan baik terlambat daripada tidak sama sekali. Apalagi, apa yang dilakukan pemerintah ini mempunyai tujuan yang mulia, mendorong merek dan bisnis lokal, khususnya UMKM untuk tumbuh dan berkembang.

“Bagi yang masih belum terlalu paham karena masih ada komentar di media sosial termasuk instagram, facebook juga orang berjualan. Ini berbeda. Mereka mempromosikan produknya melalui instagram, facebook tapi platform-platform ini tidak mengelola uang kita. Mereka tidak menerima pembayaran. Konsumen bayar langsung ke penjual, ke penjualnya bukan ke platform,” katanya.