“Sopo koen ndok?” (siapa kamu nak?) tanya Dela, suaranya berat, nyaris menyerupai suara seorang wanita tua. “Nang ndi iki ndok?” (dimana ini nak).

Sri masih mencoba melepaskan cengkraman kuat itu, namun Dela, terus menyeringai, air liurnya menetes, matanya putih, ia tersenyum.

“Jawab nek di takoni ndok” (jawab kalau di tanya!!).

“Sinten njenengan” (siapa anda) tanya Sri terbata-bata, nafasnya mulai sesak,

Dela tertawa semakin keras, membuat Sri menangis ketakutan, sebelum, Erna masuk ke kamar karena keributan itu, ia bingung, melihat Dela terbangun.

“Onok opo iki Sri, kok Dela kok Dela” (ada apa ini sri, kenapa Dela, kenapa Dela) bingung. Dela menyeringai melihat Erna sebelum akhirnya melepaskan cekikan itu. Ia melompat ke atas ranjang, merangkak kemudian seakan tertawa kegirangan, Dela berteriak, “cah kliwon kabeh” (ternyata anak kelahiran kliwon semua)

Dela masih tertawa, Sri beringsut mundur. Sementara Erna masih bingung dan shock, melihat wajah Dela yg semengerikan itu.

Dela terus melihat Sri dan Erna bergantian. “percuma, sewu dinone arek iki bakal entek” (percuma, seribu harinya anak ini akan segera habis).

“Koen kabeh mek dadi tumbal gawe cah iki,” (kalian hanya jadi tumbal untuk anak ini). Dela tertawa terus menerus, sebelum Sri melompat dan mencengkram Dela, ia mengguyur Dela dengan air kembang itu, Dela berteriak kesakitan.

“Koen lapo!! jupukno Tali ireng iku,” (kamu ngapain!! ambilkan tali hitam itu) teriak Sri pada Erna, Erna yg sempat kebingungan, bergegas mengambil tali itu, Sri mengikatnya tepat di lehernya.