BPBD Catat 42 Gempa Susulan di Sulteng, Kerusakan Infrastruktur Mulai Terungkap
Belum genap tiga jam setelah gempa magnitudo 6,7 mengguncang Sulawesi Tengah, aktivitas gempa susulan terus terjadi. Hingga pukul 13.38 WITA, BMKG mencatat sebanyak 42 kali gempa susulan, sementara laporan kerusakan dari sejumlah daerah terus berdatangan.
Situasi ini membuat warga di Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong, dan Kabupaten Poso masih diliputi kewaspadaan. Meski kondisi secara umum dilaporkan aman dan kondusif, rangkaian gempa susulan yang terjadi berulang kali membuat sebagian masyarakat memilih tetap berada di luar bangunan untuk mengantisipasi guncangan berikutnya.
Data BPBD Provinsi Sulawesi Tengah menunjukkan gempa susulan yang terjadi memiliki kekuatan bervariasi. Tercatat satu kali gempa susulan berkekuatan magnitudo 5, sebanyak 10 kali magnitudo 4, puluhan kali magnitudo 3, serta beberapa gempa dengan magnitudo 2.
Di tengah masih berlangsungnya aktivitas seismik tersebut, dampak kerusakan mulai terlihat di sejumlah wilayah terdampak. Kota Palu menjadi salah satu daerah yang mengalami gangguan pada infrastruktur. Jembatan III Palu dilaporkan mengalami keretakan akibat kuatnya guncangan. Selain itu, beberapa bangunan di kota tersebut juga dilaporkan roboh dan masih dalam proses pendataan petugas.
Kerusakan yang lebih luas dilaporkan terjadi di Kabupaten Sigi. Sejumlah bangunan roboh, sementara longsor terjadi di kawasan Gunung Kamarora. Tidak hanya itu, saluran air yang menjadi penunjang kebutuhan masyarakat juga dilaporkan terputus akibat dampak gempa.
Di Kabupaten Parigi Moutong, sejumlah bangunan mengalami kerusakan dengan tingkat yang masih diverifikasi petugas di lapangan. Pendataan terus dilakukan untuk mengetahui jumlah bangunan yang terdampak serta kebutuhan penanganan lanjutan.
Sementara itu di Kabupaten Poso, gempa mengakibatkan kerusakan pada sejumlah bangunan dan akses jalan di wilayah Napu. Kerusakan jalan tersebut menjadi perhatian karena berpotensi menghambat mobilitas warga maupun distribusi logistik apabila dibutuhkan dalam proses penanganan pascabencana.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, Ir. Asbudianto, S.T., M.Si., mengatakan tim reaksi cepat bersama pusat pengendalian operasi penanggulangan bencana masih berada di lapangan untuk melakukan asesmen dan mengumpulkan data terbaru dari seluruh wilayah terdampak.
Pendataan korban jiwa maupun jumlah warga yang mengungsi juga masih berlangsung. Hingga laporan terakhir diterima, BPBD belum merilis angka resmi karena proses verifikasi masih dilakukan oleh petugas di lapangan.
Besarnya jumlah gempa susulan dalam waktu relatif singkat menjadi salah satu perhatian utama pascagempa. Selain berpotensi menambah kerusakan pada bangunan yang sudah terdampak, gempa susulan juga dapat memicu longsor maupun gangguan pada infrastruktur yang kondisinya telah melemah akibat guncangan pertama.
Karena itu, masyarakat diminta tidak lengah meskipun kondisi mulai berangsur normal. Warga diimbau menjauhi bangunan yang mengalami retak atau kerusakan, serta terus memantau informasi resmi dari BMKG dan BPBD terkait perkembangan aktivitas gempa di Sulawesi Tengah. (Rfi)


