Adiesa memang sangat berjasa terhadap pendidikan informal Rohana semasa itu.
Di usia delapan tahun, Rohana sudah bisa menulis dalam berbagai bahasa seperti latin, Arab, Arab Melayu bahkan sudah sangat fasih berbahasa Belanda.
Sang ayah rupanya tidak pula tutup mata dengan pendidikan sang anak. Ia sengaja berlangganan buku dongeng Berita Ketjil terbitan Medan dan buku- buku cerita berbahasa asing.
Tidak hanya mengajari baca tulis, istri jaksa itu juga mengajari Rohana materi-materi keputrian seperti menyulam, menjahit, menenun, merajut dan memasak.
Dari pejabat Belanda itu pula ia banyak membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berbagai hal tentang politik, gaya hidup, dan pendidikan di Eropa, yang memang sangat digemari olehnya.
Kerajinan Amai Setia di Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, merupakan organisasi pertama di Minangkabau.
Amai Setia didirikan atas kesadaran jiwa kaum perempuan, untuk berjuang dalam mencapai kemajuan. Amai Setia didirikan Rohana Kudus pada 11 Februari 1911 atau persis 110 tahun yang lalu.
Kerajinan Amai Setia didirikan Rohana Kudus sebagai tempat pendidikan bagai perempuan Koto Gadang di masa itu.
Amai Setia bertekad mengangkat derajat perempuan Melayu di Minangkabau dengan mengajari perempuan melalui beberapa hal dasar seperti menulis membaca, berhitung, urusan rumah tangga, agama, akhlak, kerajinan tangan, menjahit, gunting-menggunting dan sulam-menyulam.
Dalam perjalanannya, Amai Setia mendapat pengakuan Rechtspersoon atau badan hukum, dengan surat putusan Nomor 31 tanggal 16 Januari 1915. Organisasi ini terus berkembang menjadi institusi pendidikan dan lembaga keterampilan bagi kaum perempuan.
Selain sebagai lembaga keterampilan perempuan, Amai Setia juga menjadi usaha dagang hasil produksi bagi kaum perempuan kala itu.
Hasil-hasil keterampilan perempuan dipasarkan untuk kesejahteraan para perempuan. Amai Setia terus berkembang menjadi basis dan pusat kerajinan rumah tangga di Koto Gadang, kecamatan IV Koto.
Medium perjuangan gender Rohana Kudus selanjutnya yaitu melalui pers. Melalui tulisan di koran. Rohana memilih menulis di surat kabar sebagai wadah perjuangannya karena ketika itu kaum perempuan dari Minang belum ada yang memegang keterampilan tersebut.




