JAKARTA – Tumbuhan ini terlihat sepele. Daunnya kecil-kecil. Rantingnya lemah, gampang patah. Tanaman ini juga tidak manja. Ia tidak butuh banyak prasyarat untuk tumbuh.
Kelor, begitu masyakat kita kerap menyebutnya. Tumbuhan ini punya nama latin Moringa oleifera. Bagi sebagian masyarakat Indonesia, tanaman ini dipercaya punya daya magis. Ia dipercaya bisa menyingkirkan anasir-anasir jahat. Tak jelas bagaimana kepercayaan itu tumbuh.
Di balik semua itu, ternyata tumbuhan yang berasal dari wilayah bernama Agra dan Oudh, di barat laut India, wilayah pegunungan Himalaya selatan ini, punya segudang khasiat bagi kesehatan.
Ada bukti, kelor ini telah dibudidayakan di India sejak ribuan tahun yang lalu. Masyarakat kuno India tahu bahwa biji-bijian mengandung minyak nabati dan mereka menggunakannya untuk tujuan pengobatan.
Kitab Shushruta Sanhita yang ditulis pada awal abad pertama masehi konon menuliskan nama Shigon untuk tanaman kelor.
Khasiat dan manfaat daun kelor ini bisa disimak dari Ai Dudi Krisnadi, pengusaha kelor di Blora, Jawa Tengah. Awalnya, ia hanya mengetahui tumbuhan ini dipercaya sebagai tumbuhan “magis”. Karena penasaran, pada 2011 ia melakukan riset kecil-kecilan. Dari riset itu ia membaca tumbuhan ini punya banyak khasiat untuk kesehatan.
Mengetahui khasiat itu, lalu ia mencoba membudidayakan tumbuhan ini.
“Saya dianggap orang gila, diusir tokoh-tokoh karena bertentangan dengan ilmu-ilmu mereka, dikira mau memerangi ilmu magis mereka,” kata pria asal Pangandaran, Jawa Barat ini, Sabtu, 4 September 2021.
Kepada mereka yang menentang, ia mengatakan tumbuhan ini banyak digandrungi di pasar luar negeri. Potensinya menjanjikan. Tapi, masyarakat tetap tak percaya. Anjing menggonggong, khafilah berlalu. Dudi terus membudidayakan tanaman itu.
Hasilnya? Kini Dudi memetik hasil. Dari budidaya tanaman itu, omsetnya mencapai Rp 4 miliar setahun. Produk pengolahan kelor bernama Moringa Organik Indonesia milik Dudi itu pasarnya menembus Eropa dan Timur Tengah.
Cerita lain juga diungkap Nasrin H. Muhtar. Pengusaha daun kelor asal Nusa Tenggara Barat. Pria ini mampu mengolah daun kelor salah satunya menjadi bahan the celup. Produk teh daun kelor yang diberi nama Moringa Kidom ini juga sudah menembus pasar dunia. Di Mataram sendiri, sejak 2016 teh ini sudah dijadikan welcom drink di beberapa hotel.



