WhatsApp Image 2026-10-26 at 23.12.47

Mengenal Petunjuk Bencana dari Leluhur Suku Kaili

Muh. Rifai
Jembatan Kuning Palu yang roboh pasca gempa Jumat, 28/09/2018. Foto: Infopena
A-AA+A++

Suku Kaili di Lembah Palu punya petunjuk soal gempa, tsunami, dan likuefaksi. Isyarat datang dari para tetua, menyelipkan lewat penamaan kampung, kosakata, dan syair.

Dian Eka Nurfiana, 28 tahun, mulai menata kembali kehidupan setelah gempa M 7,5 bersusul likuefaksi dan tsunami menerpa Sulawesi Tengah pada 28 September 2018.




Bersama keluarga, Dian memutuskan kembali ke Wisma di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu. Dia pulang setelah lebih lama tinggal di tenda pengungsi.

Konon minimnya air bersih dan kebersihan jadi masalah di pengungsian. “Di sana, ayah saya sementara terus,” ucap perempuan yang berprofesi sebagai bidan itu.

Waktu kami ketemu, Minggu (3/2/2019), kampung tempat Dian tinggal masih sunyi. Baru lima keluarga yang memutuskan pulang pasca-bencana.

Beberapa pintu rumah masih tertutup, tanpa penghuni. Di terhitung dindingnya, tampak orat-oret merah: “I Miss You Kinta” dan “Kinta Tinggal Kenangan”.

Para pemilik rumah masih berdiam di pengungsian. Ada pula yang memilih meninggalkan kampung selamanya. “Mereka trauma. Tidak mau tinggal di sini lagi,” kata Dian.

Ibu dua anak itu juga harus berdamai dengan trauma. Rasa syukur bikin kuat mentalnya. Namun, kata dia, nyawa dan kediamannya telah terhindar dari petaka.

Di kampung itu ada 15 rumah yang berderet dan berhadap-hadapan. Semuanya masih berdiri tegak bahkan setelah katastrofe menunjukkan perpindahan nan bengis.

Itulah Kinta, kampung tua yang selamat dari likuefaksi di Petobo. Hanya berjarak 1,5 meter dari Kinta, bagikan rumah setinggi 1,5-2,5 meter.

Menghasilkan generasi yang menghuni Kinta. Dia asli Kaili, ditambahkan di Sulteng.

Dalam Bahasa Kaili, katakan Dian, Kinta berarti kampung kecil. Sementara Kamus Kaili Ledo-Indonesia-Inggris ( Donna Evans, 2003 ) mengartikannya sebagai “tanah untuk rumah”.

“Kinta dulu hanya rumah-rumah (15 unit) saling berhadapan ini. Tapi lambat laun makin padat.”Dian Eka Nurfiana, warga Kampung Kinta di Petobo.

Sebelum bencana, Kinta masuk wilayah RT 3 RW 1 dan RT 1 RW 3 Kelurahan Petobo, dengan penduduk 429 jiwa.

Kala gempa M 7,5 menghantam, Dian bersama pengadilan berhamburan menuju jalan depan rumah.

Belum lagi kepanikan berlalu, mereka dikejutkan dengan gemuruh bersusul aliran lumpur. Meteran terpisah, mereka melihat lumpur menggulung rumah-rumah.

Beberapa warga Kinta lari meninggalkan kampung. Puluhan yang lain – termasuk Dian – pilih bertahan di jalanan kampung, karena lumpur telah mengepung dari berbagai Arah.

Kinta bertuah. Mereka yang selamat selamat. Sementara yang meninggalkan kampung hilang tertelan lumpur.

Warga Kinta lainnya, Sangia Masdjidan, mengaku pernah mendengar hikayat kampung tua itu dari orang tua dan neneknya.

Konon para totua (tetua) memilih berdiam di sana karena dianggap sebagai daratan yang aman. Kala itu, daerah di sekitarnya masih terdiri dari rawa-rawa plus pohon sagu dan kelapa.

Sangia lahir di Kinta pada 1969. Ibu dua anak itu pernah tinggal selama 15 tahun di Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi. Pada 1984, ia kembali mendiami rumah warisan orang tuanya di Kinta.

Saat berbalik ke Kinta, Sangia jadi saksi pembangunan Petobo. Dia melihat rawa-rawa di sekitar Kinta ditimbun demi pengembangan perumahan.

Pada 1990, pembangunan Jalan HM Soeharto – yang membelah Petobo – kian menyuburkan permukiman.

Kawasan Petobo, ucap Sangia, diminati karena akses air yang mudah. Buat dapat udara, warga cukup gali sumur sedalam empat meter. Sementara di Kinta, kedalaman sumur rerata sembilan meter.

“Di situ bekas rawa-rawa, jadi gampang bisa udara. Makanya orang suka bikin rumah,” kata Sangia.

Kini rumah-rumah itu hilang. Kawasan permukiman lenyap. Alam memaksanya bersalin rupa, tetap padang lumpur yang telah mengering di bawah terik khas ekuator.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut luas Kelurahan Petobo yang terdampak likuefaksi mencapai 180 hektare.

***