“Goya goya gontiro …
Toka bonga lolio ….
Palu, Tondo, Mamboro, matoyomo …
Kamolue melantomo …”
“Goyang-goyang di Desa Ganti (Banawa, Donggala).
Yang melihat ke bawah, orang Desa Kabonga dan Loli Oge.
Palu, Tondo, dan Mamboro, tenggelam.
Tinggal Kayumalue terapung.”
Syair berjudul Kayori ITU menceritakan Peristiwa gempa Dan tsunami di Teluk Palu PADA 1938. Kayori berjejak hearts ingatan sebagian Warga Kayumalue, Kecamatan Palu Utara.
Sastra lisan itu jadi salah satu pernyataan budaya yang didokumentasikan Kelompok Muda Peneliti Hutan (Komiu) dalam dokumen ” Kebijakan Singkat: Mitigasi Bencana Berbasis Pengalaman Suku Kaili di Lembah Palu “.
Selain Kayori , Komiu mencatat beberapa Istilah Lokal berkenaan Bencana di Palu Dan Sekitarnya – Dari pelbagai subetnik Kaili.
Misal, linu atau lingu yang diperbaiki gempa; Limbotalu dan bombatalu untuk tiga gelombang dari laut (tsunami); Nalodo yang berarti “masuk ditusukkan”, dan kerap dipakai menggambarkan likuefaksi.
Peneliti Komiu, Pemberi Lasimpo, membagikan pengetahuan tersebut diwariskan lewat tutura(cerita) atau motutura (bercerita). Pewarisan bisa berlangsung di sela aktivitas berburu, berkebun, atau jelang tidur.
“Yang menuturkan biasanya ibu atau nenek,” katanya.
Beri tahu, informasi awal seputar pengetahuan lokal bisa jadi modal pemerintah guna menggali informasi kebaruan di Sulteng.
“Pengetahuan tentang kampung-kampung tua yang aman dihuni bisa menjadi dasar rencana tata ruang wilayah.”Hadiah Lasimpo, peneliti Komiu.
Arkeolog Sulteng, Iksam juga punya pandangan serupa. Sejauh ini, kata Iksam, jejak bencana di Sulteng hanya termaktub lewat catatan kolonial Belanda pada awal abad ke-20.
Padahal, jejak bencana itu sama tuanya dengan zaman Pulau Sulawesi. Pun perburuan suku-suku agaknya lepas dari kebencanaan.
Iksam menyebut Sulawesi rentan bencana lantaran terbentuk oleh tiga lempeng besar yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik.
Salah satu titik temu tiga lempeng itu adalah Sesar Palukoro, yang panjangnya mencapai 500 kilometer dan membelah Palu dari utara ke selatan.
Palukoro merupakan salah satu patahan paling aktif di dunia. Ia pula pemicu katastrofe 28 September 2018, yang ditolak 4.340 jiwa berlalu dan hilang, sekitar 172 ribu orang mengungsi, dan juga lebih dari 68 ribu rumah rusak.
Bila balik ke belakang, sejarah kegempaan Palukoro panjang belaka. Ia pernah bergeser dahsyat sekaligus bikin gempa di atas permukaan pada 1828, 1927, 1938, 1968, 1996, dan 2012.
“Pengalaman masa lalu yang lalu terjadi yang melahirkan toponimi dan pengetahuan lain,” kata Iksam.
Ihwal toponimi, Iksam terima kasih contoh lain. Misal, kawasan Kaombona, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikolure, Palu. Kaombona berarti tempat runtuh (tanah runtuh). Penamaan itu membalikkan pada fenomena penurunan tanah kala gempa 1938.
Ada pula Desa Rogo, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi. Rogo terbukti hancur. Nama itu didasarkan pada pengalaman bencana. Sejarah mungkin sedang berulang, dalam waktu singkat, banyak rumah di Desa Rogo roboh.
Sayangnya, katakanlah Iksam, pelbagai pengetahuan yang dibutuhkan tradisi lisan. Peredarannya juga terbatas pada beberapa subetnik Kaili atau klan tertentu.
Iksam memandang perlu proses dokumentasi dan penyebarluasan pengetahuan lokal tentang upaya mitigasi bencana.
“Itu juga harus muncul dalam bahan ajar di sekolah. Misal lewat muatan lokal,” kata dia.
Sementara Kepala Dinas Pendidikan Kota Palu, Ansyar Sutiadi, mengatakan pihaknya telah merencanakan untuk memasukkan pengetahuan lokal tentang kebencanaan dalam kurikulum pendidikan tingkat dasar dan menengah.
“Nanti, sebelum pelajaran utama dimulai, guru memberikan pengetahuan soal daerah-daerah rawan bencana dan mitigasi,” kata Ansyar, saat berdiskusi di kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu, pengujung Desember 2018.
Dengan kata lain, pengetahuan itu bisa jadi modal generasi penerus untuk hidup berdampingan dengan bencana.
Sumber Artikel: Beritagar.id




