Skrol untuk membaca pos

Profil Harmoko, Menteri Penerangan Era Soeharto yang Meninggal Dunia

Muh. Rifai
Harmoko. Foto Istimewa Via PMJNews
A-AA+A++

JAKARTA – Mantan Menteri Penerangan di era Soeharto, Harmoko meninggal dunia diusianya ke 82 tahun pada Minggu, 4 Juli 2021 sekira pukul 20:22 WIB.

Menurut Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Letjen TNI Albertus Budi Sulistya, Harmoko meninggal setelah beberapa menit akan mendapatkan perawatan medis kedaruratan.

“Saat Harmoko tiba di instalasi gawat darurat (IGD) RSPAD kondisinya sudah dalam keadaan penurunan kesadaran, ujranya seperti dilansir Okezone.

Setelah itu, dokter langsung mengambil tindakan medis terhadap mantan Ketua MPR tersebut. Namun, Tuhan berkehendak lain mantan wartawan senior tersebut meninggal dunia.

“Kita coba lakukan tindakan medis, tetapi Tuhan berkehendak lain. Jadi memang singkat sekali di IGD,” tandasnya.

Mengutip CNN Indonesia, Kesehatan Harmoko diketahui sempat memburuk dua tahun silam. Dia sempat menjalani perawatan di RS Medistra karena infeksi paru pada 2018.

Kemudian pada 2016, juga diperoleh informasi, bahwa kesehatannya sudah mulai menurun, di mana ia sulit berkomunikasi verbal dan harus menggunakan kursi roda.

Berikut Profil Harmoko dikutip Infopena.com dari berbagai sumber:

Harmoko lahir di Patianrowo, Nganjuk, Jawa Timur, 7 Februari 1939  adalah politikus Indonesia yang pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan Indonesia pada masa Orde Baru, dan Ketua MPR pada masa pemerintahan BJ Habibie.

Dia juga pernah menjabat sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia, dan kemudian menjadi Menteri Penerangan di bawah pemerintahan Soeharto.

Kemudian, permulaan tahun 1960-an, setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas, ia bekerja sebagai wartawan dan juga kartunis di Harian Merdeka dan Majalah Merdeka.

Pada tahun 1964 ia bekerja juga sebagai wartawan di Harian Angkatan Bersenjata, dan kemudian Harian API pada 1965. Pada saat yang sama, ia menjabat pula sebagai pemimpin redaksi majalah berbahasa Jawa, Merdiko (1965).

Pada tahun berikutnya (1966-1968), ia menjabat sebagai pemimpin dan penanggung jawab Harian Mimbar Kita. Pada tahun 1970, bersama beberapa temannya, ia menerbitkan harian Pos Kota.

Sebagai menteri Penerangan, Harmoko mencetuskan gerakan Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pirsawan) yang dimaksudkan sebagai alat untuk menyebarkan informasi dari pemerintah.

Harmoko pun dinilai berhasil memengaruhi hasil pemilihan umum (Pemilu) melalui apa yang disebut sebagai “Safari Ramadhan”.

Sebagai Ketua Umum DPP Golkar, Harmoko dikenal pula sebagai pencetus istilah “Temu Kader”.

Terakhir, ia menjabat sebagai Ketua DPR/MPR periode 1997-1999 yang mengangkat Soeharto selaku presiden untuk masa jabatannya yang ke-7. Namun dua bulan kemudian, Harmoko pula memintanya turun ketika gerakan rakyat dan mahasiswa yang menuntut reformasi tampaknya tidak lagi dapat dikendalikan.