Polda Sulteng Ungkap Prostitusi Online di Palu

Bagikan Artikel Ini

PALU – Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah (Polda Sulteng) mengungkap terduga pelaku prostitusi online di Palu yang melibatkan anak-anak di bawah umur.

Kabid Humas Polda Sulteng Kombes Pol. Didik Supranoto kepada wartawan di Palu, Selasa, mengatakan, dalam pengungkapan kasus tersebut telah mengamankan 22 orang, termasuk anak di bawah umur dalam pengerebekan di dua home stay di Kota Palu pada Jumat (26/3).

Didik menjelaskan dari 22 orang yang diamankan, tujuh orang sebagai korban, yaitu inisial AN (16), MR (17), NM (17), BR (14), EE (23), S (19) dan RS (19), dan empat orang ditetapkan sebagai tersangka yaitu WS (22), HG (26), VR (17) dan MR (17), serta dua orang langsung ditahan, dan dua orang tidak ditahan karena di bawah umur.

Ia mengatakan modus yang digunakan para pelaku, dengan korban menerima ‘booking order (BO)’ untuk pelayanan jasa prostitusi melalui aplikasi whatsApp atau me chat dengan tarif sekitar dari Rp300 ribu sampai Rp1.500.000.

“Tersangka mencari pelanggan yang korbannya adalah anak-anak untuk booking order pelayanan seksual, ketika sudah mendapatkan pelanggan dan terjadi transaksi yang bersangkutan mendapat upah uang dengan jumlah bervariasi yang telah ditentukan atau dari hasil masing-masing korban memberikan tips kepada mucikarinya mulai Rp50 ribu sampai Rp 500 ribu tergantung perjanjian,” katanya.

Ia menjelaskan dalam penggeledahan di Home Stay C kamar nomor 03 ditemukan tujuh orang laki-laki perempuan, di kamar 04 delapan orang laki-laki dan perempuan, dan di Home Stay RJ kamar 05 ditemukan tujuh laki-laki dan perempuan, sehingga di dua Homestay tersebut telah diamankan 22 orang dan di setiap kamar terdapat anak-anak di bawah umur.

BACA JUGA  Bukan MA, Polisi Ralat Artis yang Terlibat Prostitusi Online Berinisial SH

Bagi para tersangka diduga melakukan tindak pidana eksploitasi terhadap anak secara ekonomi dan seksual dan menjadi mucikari, kata dia, dapat dijerat pasal 88 Jo pasal 76 huruf (i) UU Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan atau pasal 296 KUHPidana, dengan pidana penjara maksimal 10 tahun dan denda paling banyak Rp200 juta.

“Dari keterangan para korban, mereka terpaksa melakukan prostitusi ini dikarenakan kesulitan ekonomi, kurang perhatian orangtua dan ada permasalahan keluarga,” ujar Supranoto. [Ant]

loading...

Bagikan Artikel Ini

Komentar

Masih Hangat